Monday, October 11, 2021

Mendhung Tanpa Udan Karya Viral Kukuh Prasetya Kudamai

Mendhung Tanpa Udan! Beberapa waktu terakhir, lagu ini berkumandang dari berbagai tempat, lewat banyak penyanyi. Bahkan penyanyi senior Iwan Fals pun ikut meramaikannya dengan versinya. Saking banyaknya versi ini lagu, banyak yang lantas tergagap bertanya: ini lagu siapa sih? Yup, ini lagu karya Kukuh Prasetya Kudamai yang dikenal pertama kali lewat versi Ndarboy Genk.




Baca juga: Gitaris Burgerkill Meninggal

“Awak dhewe tau duwe bayangan, besok yen wis wayah omah-omah.. Aku maca koran sarungan, kowe blanja dhasteran. Nanging saiki wes dadi kenangan, aku karo kowe wis pisahan, aku kiri kowe kanan wis beda dalan…. “ 

Di atas adalah penggalan Mendhung Tanpo Udan. Lirik yang sederhana dan mudah diingat. Ini lagu viral di Tiktok dan reel Instagram. Tak kurang Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pun menggunakannya di reel Instagramnya.

Jadi, siapa sih Kukuh ini?

Nama lengkapnya Muhammad Kukuh Prasetya. Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini mengawali karir bermusiknya dengan bergabung di grup musik Sri Rejeki pada 2014. Ia pernah pula membangun band sendiri, band hardcore di Madiun. Kukuh juga menapakkan jejaknya di dunia peran, terlibat di sejumlah sinetron. Mendhung Tanpa Udan sendiri ia tulis saat ia baru diberhentikan dari keikutsertaannya di salah satu sinetron TV Nasional, pada awal pandemi tahun lalu.

Baca juga: Pelangi Cinta dalam Versi Baru

Butuh  waktu tujuh bulanan bagi Kukuh menuntaskan Mendhung Tanpa Udan. Produksinya sendiri dibantu pencipta lagu, Kris Sagara di Jakarta, dan peniup terompet, Anas di Yogyakarta. Akhirnya berhasil rilis pada 12 Februari 2021.

Mendhung Tanpa Udan

Kisah iki

Kesimpen rapi

Neng jero sepi

Udan tanpa mendhung

Gawe ati bingung

Ra isa tak bendung

Banyu tiba gawa teka rasa

Rasa seng wes tau tak kon lunga

Aku wong sing ora gampang sayang

Merga aku wedi krasa peteng neng gon padhang

Sakwise udan terang

Abot ati iki

Arep ninggalke perasaan

Awak dhewe tau duwe bayangan

Besok yen wis wayah omah-omahan

Aku maca koran sarungan

Kowe blanja dhasteran

Ee... Tapi...

Udan tanpa mendhung

Gawe ati bingung

Ra isa tak bendung

Banyu tiba gawa teka rasa

Rasa sing wis tau tak kon lunga

Aku wong sing ora gampang sayang

Merga aku wedi krasa peteng neng gon padhang

Sakwise udan terang

Yen pancen kowe jodhoku

Gusti, bapak, lan ibu

Kula nyuwun pengestu

Aku wong seng ora gampang sayang

Merga aku wedi krasa peteng neng gon padhang

Sakwise udan terang

Abot ati iki

Arep ninggalke perasaan

Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Catatan:

Dilakukan perubahan ejaan dalam penulisan lirik lagu, semata memenuhi kaidah bahasa Jawa baku, tanpa konfirmasi ke penulis lirik.

Friday, September 3, 2021

Gitaris Band Cadas Bandung, Burgerkill, Eben, Berpulang

Penggemar musik cadas tanah air, terutama warga Bandung dibuat kaget oleh kabar kepergian gitaris sekaligus pendiri Burgerkill, Eben. Kepergian mendadak sosok bernama asli Aris Tanto pada Jumat (3/9/2021) dikabarkan karena serangan jantung.



Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Kehadiran Burgerkill di pertengahan tahun 90-an menyentak dunia musik tanah air. Musik super keras yang mereka usung menjadi fenomena tersendiri. Bagi warga Bandung, meski bukan penggemar musik cadas, mengenal nama ini. Terlebih grup ini lahir di kawasan tumbuh dan berkembangnya death metal/grindcore Bandung. 

Ebenlah yang mengawali. Pada Mei 1995, Eben hijrah dari Jakarta ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya. Di sekolah, Eben bertemu dengan Ivan, Kimung, dan Dadan sebagai line-up pertamanya. Sebagai band baru, mereka bermain sebagai band pembuka di event-event panggung musik metal. Hingga kemudian Eben mulai buka koneksi dengan komunitas di Jakarta lantas memberinya banyak job manggung. Antusiasme penikmat musik underground terhadap Burgerkill mulai terpupuk. 

Baca juga: Eddie van Halen Tutup Usia

Di satu sisi mereka sukses mendapatkan publisitas, di sisi lain personil beberapa kali mengalami perubahan. Hingga line-up solid yang kita kenal kini.

Kesempatan bagus datang pada awal 1997. Tawaran untuk bergabung dalam album kompilasi. Sejumlah nama yang sudah cukup dikenal oleh penikmat hardcore Bandung antara lain Full Of Hate, Puppen, dan Cherry Bombshell. Dalam album yang dijuduli  'Masaindahbangetsekalipisan' tersebut,  lagu milik Burgerkill, Revolt! menjadi nomor pembuka. Album ini laris manis, terjual 1000 keping dalam waktu singkat.

Jelang pergantian tahun, anak-anak muda ini kembali membuat gebrakan dengan menghadirkan album kompilasi baru, 'Breathless'. Burgerkill menyumbangkan singlenya 'Offered Sucks'. Melengkapi prestasi, awal 1998, Burgerkill merilis single Blank Proudness. Lagu ini tergabung dalam album kompilasi band-band Grindcore Ujungberung bertajuk 'Independent Rebel'. Single rilisan mereka mendapatkan sambutan positif publick musik keras, bukan hanya di tanah air namun juga di negeri jiran. Tawaran-tawaran rekaman pun terus berdatangan. Hal tak menyenangkan datang, tak terhindarkan. Toto memutuskan mundur, yang lalu disusul berpulangnya sang vokalis, Ivan.  

Baca juga: Mark Chapman dan Peristiwa Kematian John Lennon

Demikianlah, Burgerkill makin berkibar dan bertahan hingga tahun-tahun terakhir. Selain sukses dalam rekaman, Burgerkill  mengantongi sejumlah penghargaan. BUkan hanya di lingkup underground, namun juga mainstream achievement misalnya saat mereka menjadi nominator Band Independent Terbaik ala majalah NewsMusik pada tahun 2000.

Sekali lagi, selamat jalan, Eben.. Burgerkill semoga terus berkarya. 

Thursday, September 2, 2021

Try to Remember, Lagu Pengantar September

Try to Remember, lewat siapa lagu ini Anda dengar pertama kali? Saya: Brothers Four! Yang sesungguhnya, lagu ini dibawakan The Fantasticks pada 1960. 


Baca juga: September Ceria, Penanda Datangnya September

The Fantasticks merupakan sebuah pentas musik yang digarap oleh Harvey Schmidt dan Tom Jones pada lirik. Idenya sendiri mengadopsi cerita cinta yang pernah dikenal pada abad sebelumnya. Kisah ini terus dipanggungkan dari masa ke masa. Konon hingga awal tahun 2000 saja sudah tercatat lebih dari 17 ribu penampilan di Broadway, dan menjadikannya sebagai drama musikal terabadi. Sedangkan musik yang digarap oleh Lore Noto menerima penghargaan Tony Honors for Excellence in Theatre pada 1991. 

Seperti komposisi lainnya, lirik Try to Remember digarap oleh Tom Jones dengan musik garapan Harvey Schmidt. Lagu ini masuk dalam daftar Billboard Hot 100 sebanyak tiga kali selama 1965, dari 3 versi penyanyi sekaligus yakni Ed Ames, Roger Williams, dan Barry McGuire. Bukan hanya di Amerika, lagu ini juga berjaya di negara dan benua lain. Yang tercatat cukup berprestasi di tangga lagu Australia adalah trio New World yang mencapai posisi 11 pada akhir 1968. Gladys Knight & the Pips mencetak sukses internasional pada 1975. Versi mereka menempati posisi 11 di US Hot 100, dan posisi 4 di Britania Raya. 

Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Try to Remember

Try to remember the kind of September

When life was slow and oh, so mellow

Try to remember the kind of September

When grass was green and grain was yellow

Try to remember the kind of September

When you were a tender and callow fellow

Try to remember and if you remember

Then follow, follow

Try to remember when life was so tender

That no one wept except the willow

Try to remember the kind of September

When love was an ember about to billow

Try to remember and if you remember

Then follow, follow

Deep in December, it's nice to remember

Although you know the snow will follow

Deep in December, it's nice to remember

The fire of September that made us mellow

Deep in December, our hearts should remember

And follow, follow, follow


Wednesday, December 23, 2020

Across The Universe, Sebuah Seruan pada Semesta

Across The Universe muncul dan dirilis pertama kali bersama album kompilasi No One's Gonna Change Our World pada 1969. Album ini dirancang sebagai charity dalam kampanye the World Wildlife Fund (WWF). Saat itu WWF tengah menggugat World Wrestling Federation untuk berhenti memakai akronim yang sama. Ini lagu ditulis oleh John Lennon dengan kredit Lennon-McCartney. Pada versi ini dilengkapi dengan suara kicauan burung yang menandai kentalnya peristiwa alam. Berbeda dengan versi yang rilis bersama album Let It Be.


Baca juga: The Beatles, Maharishi, dan Sexy Sadie

Satu kalimat khas yang kita temukan pada lagu ini adalah Jai Guru Deva Om. Kalimat ini serupa mantra yang mengajak pendengarnya untuk berhening menuju ke kesadaran yang lebih tinggi. Kalimat dari Bahasa Sanskerta ini bermakna: saya berterima kasih kepada Guru Dev. Kalimat-kalimat serupa akrab dengan The Beatles saat mereka berkunjung ke India. Bahkan saat mengunjungi Maharishi di Rishikesh, John sempat membeli gelang kuningan bertuliskan Jai Guru Dev di bagian atasnya. 

Saat melakukan rekaman Across The Universe, sempat terjadi ketegangan antara John dan Paul. Namun akhirnya proses rekaman yang berlangsung sepanjang Februari 1968 tersebut tuntas, dan hasilnya seperti yang kita nikmati kini. Pada 1975, David Bowie membawakan lagu ini dengan Lennon pada gitar. Versi Bowie rilis Bersama album Young Americans.

Baca juga: Kalender The Beatles 1964


Across The Universe

(Let It Be version)


Words are flowing out like endless rain into a paper cup

They slither while they pass, they slip away across the universe

Pools of sorrow waves of joy are drifting through my opened mind

Possessing and caressing me


Jai guru deva om

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world


Images of broken light which dance before me like a million eyes

They call me on and on across the universe

Thoughts meander like a restless wind

Inside a letter box they

Tumble blindly as they make their way

Across the universe


Jai guru deva om

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world


Sounds of laughter shades of life are ringing

Through my open ears inciting and inviting me

Limitless undying love which shines around me like a million suns

And calls me on and on across the universe


Jai guru deva om

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world


Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva...

Baca juga: The Beatles di New Zealand

Tuesday, December 22, 2020

Fire and Rain, Sebuah Cerita Kehilangan

Lewat suara siapa Anda mendengarkan Fire and Rain? Babyface? Dido? Bagi yang pernah melewati dekade 70-an atau tahun-tahun tak terlalu jauh setelahnya, mungkin mengenali lagu ini suara John Denver atau Willie Nelson atau tentu saja sang pemilik lagu, James Taylor. Carole King, yang sebelumnya telah bekerja sama dengan Taylor pada lagu You’ve Got A Friend, terlibat dalam permainan piano.



Baca juga: Eddie Van Halen Berpulang

Yup, Fire and Rain dirilis pertama kali pada Februari 1970 lewat suara James Taylor. Ia sendiri juga yang menulis liriknya. Taylor bercerita tentang kawan masa kecilnya, Suzanne Schnerr yang mengakhiri hidupnya, dan perjuangannya membebaskan diri dari ketergantungan obat. Peristiwa kematian Schnerr terjadi saat ia berada di London, Inggris, melakukan rekaman di Apple Records untuk album pertamanya. Saat itu ia juga tengah mengalami depresi karena kegagalan dengan band yang dibentuknya. The Flying Machine. Taylor berhasil menuntaskan ini lagu saat sedang melakukan rehabilitasi untuk ketergantungannya. 

Baca juga: Somewhere Over The Rainbow, Lagu Abadi

Fire and Rain rilis sebagai single untuk album keduanya, Sweet Baby James, pada Februari 1970. Tak lama setelah rilis, berhasil menjadi runner up di tangga lagu Kanada, dan berada di posisi tiga Billboard Hot 100. 


Fire and Rain


Just yesterday morning they let me know you were gone

Susanne the plans they made put an end to you

I walked out this morning and I wrote down this song

I just can't remember who to send it to

I've seen fire and I've seen rain

I've seen sunny days that I thought would never end

I've seen lonely times when I could not find a friend

But I always thought that I'd see you again

Won't you look down upon me, jesus

You've got to help me make a stand

You've just got to see me through another day

My body's aching and my time is at hand

And I won't make it any other way

Oh, I've seen fire and I've seen rain

I've seen sunny days that I thought would never end

I've seen lonely times when I could not find a friend

But I always thought that I'd see you again

Been walking my mind to an easy time my back turned towards the sun

Lord knows when the cold wind blows it'll turn your head around

Well, there's hours of time on the telephone line to talk about things

To come

Sweet dreams and flying machines in pieces on the ground

Oh, I've seen fire and I've seen rain

I've seen sunny days that I thought would never end

I've seen lonely times when I could not find a friend

But I always thought that I'd see you, baby, one more time again, now

Thought I'd see you one more time again

There's just a few things coming my way this time around, now

Thought I'd see you, thought I'd see you fire and rain, now

Baca juga: Mark Chapman dan Peristiwa Kematian John Lennon

Wednesday, December 9, 2020

Mengenang Lennon, Setelah 40 Tahun Kepergiannya

Tanggal 8 Desember 2020, beatlemania di berbagai belahan dunia memperingati peristiwa kematian John Lennon dengan caranya masing-masing. Sudah 40 tahun berselang, namun para penggemar tak pernah lupa. Ingatan akan peristiwa tertembaknya Lennon yang berakhir dengan kematiannya, tak akan lekang oleh waktu.

Sebuah catatan menarik ditulis oleh sebuah akun fesbuk dengan nama Love from George. Menarik, karena ternyata angka 40 ini punya makna khusus. John meninggal di usia 40 tahun.

Baca juga: Peringatan Kematian John Lennon 2019

 

Paul McCartney, melalui akunnya juga berbagi kenangan tentang kawan seperjuangannya tersebut. Ia mengunggah foto karya istrinya, saat ia duduk berdampingan dengan Lennon. 


Baca juga: Rekaman Decca, Awal Mula The Beatles

Di akun twitternya, Ringo Starr juga membagikan kenangannya terhadap Lennon. Seperti Paul, ia pun mengunggah fotonya saat berdua dengan Lennon. 

Penyanyi Cat Stevens atau Yusuf Islam juga menunjukkan apresisasinya. Ia menyebut Lennon sebagai perancang perdamaian di masa depan.


Baca juga: Menunggu Film Dokumenter The Beatles?

Akun musik In Music We Trust menampilkan foto Ozzy Osbourne yang sedang meletakkan bunga di monumen Strawberry Field di Central Park.


Seperti kita tahu, Lennon meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, setelah ditembak Mark David Chapman pada 8 Desember 1980. Chapman sendiri hingga kini masih mendekam di penjara. Upaya evaluasi hukuman terhadap Chapman dilakukan empat tahun sekali. Namun hingga tahun ini, Yoko tak memberikan persetujuannya atas pembebasan Chapman dengan pertimbangan kejadian serupa dapat berulang.

Baca juga: Mark Chapman dan Persitiwa Kematian John Lennon

Yoko sendiri tahun ini kembali menggaungkan kampanye tentang pembatasan penggunaan senjata. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kembali ia unggah foto kacamata yang dipakai Lennon saat penembakan terjadi. Terlihat bercak darah pada bagian kiri kacamata.

Ia juga mengungkapkan kekangenan mereka, dia sendiri bersama Julian dan Sean terhadap sosok Lennon.

Baca juga: John Lennon, Yoko Ono, dan Pernikahan Mereka

 

 

Wednesday, December 2, 2020

Revolution 9, Lagu Absurd di White Album

Revolution 9, lagu apakah sesungguhnya? Atau ini tak bisa disebut lagu? Yang pasti, judul yang dapat kita temukan di White Album ini tak pernah dimunculkan dalam playlist siarannya penulis. Terlalu absurd, yang tak dapat diterima oleh semua pendengar yang notabene beragam. Bahkan konon sebetulnya ini lagu tak disetujui semua personel untuk dimasukkan dalam album.

Jadi, apa sesungguhnya Revolution 9

Baca juga: Menunggu Film Dokumenter The Beatles

Revolution 9 adalah kumpulan suara acak. Suara manusia yang monoton menyebut 'number nine', obrolan yang tak jelas, dan aneka musik. Berangkat dari lagu Revolution, John Lennon mengimbuhi dengan potongan-potongan suara, pidato, obrolan, pertunjukan musik, dengan coda yang tak terpakai. Semuanya dimanipulasi dengan distorsi, echo, aneka panning dan fading. Pertunjukan musik yang diambil, beberapa di antaranya adalah dari pertunjukan musik klasik seperti O Clap Your Hand karya Vaughan Williams Motet. Lalu ada potongan cord penghujung Symphony No 7, dan komposisi Beethoven Choral Fantasy, The Streets of Cairo. Ada pula komposisi Schumann Studi Symphonic yang diputar terbalik. 

Baca juga: The Beatles dan Odeon Cinema

Potongan lagu The Beatles juga dijadikan bagian. Ada komposisi biola dari lagu A Day in the Life, ditimbal suara George Martin: "Geoff, put the red light on”. Beberapa lagu unik juga mendapatkan porsi, seperti lagu dari Arab, Awwal Hamsa. Rekaman nyanyian sepak bola Amerika, Hold that line! Block that kick! juga tak luput. Tambahan lainnya, potongan pertunjukan opera entah milik siapa, dan musik-musik yang diputar terbalik. 



Banyak yang berspekulasi tentang lagu ini. Tentang chaos dan kekerasan, hal-hal yang melekat pada revolusi. Juga dikaitkan dengan rumor kematian Paul McCartney. 

Baca juga: Album With The Beatles


Friday, November 20, 2020

Pelangi Cinta Dalam Versi Baru, Kolaborasi Diskoria dan Afifah Yusuf

Bagi yang pernah melewati dekade 80-an, pasti setidaknya pernah dengar ini lagu. Pelangi Cinta, karya A Riyanto yang rilis pertama kali pada 1981 oleh Jamal Mirdad. Lagu ini lebih populer lewat suara Hetty Koes Endang. Nah, ini lagu baru-baru ini dibuat versi barunya oleh Diskoria.

Baca juga: Symphony Yang Indah Dalm Suara Once

Diskoria sendiri adalah kolaborasi DJ Merdi Simanjuntak dan Fadli Aat. Pada lagu yang mereka rilis pada pertengahan Oktober lalu ini, Diskoria menggandeng Afifah Yusuf yang tak lain adalah putri Hetty Koes Endang. Hetty bahkan hadir dalam proses rekamannya.

Baca juga: Jemu dan Album Salute To KoesPlus

Dalam pernyataannya kepada media, Afifah Yusuf mengatakan, Pelangi Cinta memberikan sentuhan emotional. "Lagu ini pernah dinyanyikan oleh sosok yang sangat inspiratif dalam hidup saya. Secara melodi dan keseluruhan konsep lagu ini sangat sesuai sebagai lagu perkenalan dari projek kolaborasi bersama Diskoria." (Antara News). 

Pada proses produksinya ini, Diskoria dibantu dua musisi yang pernah tergabung dalam grup elektronik, Animalism, Imam Buana Luthfi dan Pandji Dharma. Penggarapan video musik dipercayakan kepada Fariz RM. 


Baca juga: Melati Suci, Karya Indah Guruh


Pelangi Cinta


Dua mata bertemu dan

Dua hati mulai bersatu saat itu

Tanpa sepatah kata namun

Serasa cinta asmara yang terpadu


Kita hadir di dunia untuk berjumpa

Kita hadir di dunia untuk bercinta

Agaknya


Sejuta kata mesra berlimpah

Bagai air telaga kata cinta

Bulan dan bintang-bintang berkerling

Dengan sinar yang terang bagi kita


Hari yang panjang tak cukup untuk bercinta

Rumah yang lapang tak cukup untuk berdua

Agaknya


Dulu aku yang merana

Kini aku yang bahagia

Sekuntum bunga kupetik-petik

Kusumpili telingamu


Kita terlena bahagia

Lupa kutukan dewata

Kita nikmati bersama-sama

Buah manis dari surga


Sejuta kata mesra berlimpah

Bagai air telaga kata cinta

Bulan dan bintang-bintang berkerlip

Dengan sinar yang terang bagi kita


Hari yang panjang tak cukup untuk bercinta

Rumah yang lapang tak cukup untuk berdua

Agaknya


Dulu aku yang merana

Kini aku yang bahagia

Sekuntum bunga kupetik-petik

Kusumpili telingamu


Kita terlena bahagia

Lupa kutukan dewata

Kita nikmati bersama-sama

Buah manis dari surga


Dulu aku yang merana

Kini aku yang bahagia

Sekuntum bunga kupetik-petik

Kusumpili telingamu


Kita nikmati bersama-sama

Buah manis dari surga

Sekuntum bunga kupetik-petik

Kusumpili telingamu

Wednesday, October 21, 2020

The Beatles dan Odeon Cinema

Pada 21 Oktober 1964 tercatat The Beatles manggung di Odeon Cinema, Glasgow, Skotlandia, sebagai bagian dari British tour. The Fab Four tampil pada dua konser dalam semalam, pukul 18.40 dan 21.00. Mereka dibayar £850 untuk sekali tampil. Seperti pada penampilan-penampilan mereka sebelumnya dalam tour tersebut, The Beatles performed membawakan Twist And Shout, Money (That’s What I Want), Can’t Buy Me Love, Things We Said Today, I’m Happy Just To Dance With You, I Should Have Known Better, If I Fell, I Wanna Be Your Man, A Hard Day’s Night, dan Long Tall Sally.

Skotlandia menjadi salah satu tujuan kunjungan The Beatles dalam rangkaian British tour di tahun tersebut. Dan ini menjadi kali ketiga mereka mengunjungi Odeon Cinema.

Nah, mari kita berkenalan dengan Odeon Cinema.

Odeon Cinema adalah sebuah gedung yang terkenal di Glasgow, Skotlandia. Persisnya, pada 1934 dibangun dengan nama the Glasgow Paramount Theatre, yang dengan segera menjadi salah satu jaringan bisnis sinema Amerika di Inggris. Arsitekt yang merancang gedung ini adalah Frank T Verity dan Samuel Beverly, yang kemudian banyak membuat desain Paramount Theatre di Inggris. Bangunan sendiri memakai komponen granit putih, memiliki lima jendela besar. Ada garis terbuat dari lampu neon mengelilingi gedung yang dinyalakan pada malam hari. Terdapat serambi dan fasilitas seperti cafe dan restoran. Sebuah bangunan yang besar, menempati setengah blok kota.  



Auditorium sendiri memiliki 2.784 tempat dalam lingkaran. Panggung luas dengan area udara yang juga bebas. Sebanyak lima belas ruang ganti uga tersedia di bagian samping dan di bawah panggung. 

Pada 1939, Paramount Theatre berganti pemilik. Bukan hanya Glasgow, namun semua Paramount di Inggris, dijual ke jaringan Odeon Theatres Ltd. milik Oscar Deutsch. Namanya menjadi Odeon. Aneka kesuksesan diraih gedung ini pada masa tersebut hingga 1970. Selain film, pertunjukan musik menambah popularitas Oden. The Beatles, The Rolling Stones, Roy Orbison, dan nama-nama terkenal lainnya. Duke Ellington dan orkestranya tampil pada konser akhir musim panas 1969, yang sekaligus menjadi masa penghujung Odeon. Gedung ini ditutup pada 13 September 1969, lalu direnovasi menjadi bioskop tiga layar.


Baca juga kisah The Beatles lainnya

Apa kabarnya kini? Setelah sempat berjaya pada dekade 80-an, Odeon menjual bangunan itu kepada pengembang pada Maret 2003. Bioskopnya ditutup tiga tahun kemudian, dan berganti dengan toko, restoran, dan klub malam. Pada Maret 2013 bangunan berganti menjadi hotel dan blok perkantoran. Bagian depan bekas Odeon dan ruang serambi masih dimanfaatkan sebagai bagian hotel. 



sumber: cinematreasures dot org dan paul mccartney project web

Monday, October 12, 2020

Eddie Van Halen Tutup Usia

Kabar duka datang dari blantika musik dunia. Eddie Van Halen berpulang pada Rabu, 7 Oktober 2020 lalu. Eddie telah lama menjadi cancer survivor. Ia didiagnosis kanker lidah pada tahun 2000. Dua tahun kemudian sempat dinyatakan bersih pasca operasi pemotongan sepertiga bagian lidahnya. Tapi di beberapa waktu terakhir ternyata sel kanker sudah menyebar luas hingga ke otaknya.


Putra Eddie, Wolf menulis di akun twitternya @WolfVanHalen: “Saya tidak percaya harus menulis ini. Pagi ini ayah saya, Edward Lodewijk Van Halen, telah kalah dalam perjuangan panjang dan sulit melawan kanker. Dia ayah terbaik bagi saya. Setiap waktu saya bersamanya di atas dan di luar panggung adalah hadiah. Saya sangat sedih dan rasanya tidak mungkin pulih dari kehilangan ini. Saya menyayangimu Ayah." 

Nama lengkapnya Edward Lodewijk Van Halen. Ia lahir di Amsterdam pada 26 Januari 1955. Ayahnya, Jan Van Halen adalah pemain saksofon dan klarinet asal Amsterdam yang menikah dengan perempuan blasteran Indonesia-Belanda kelahiran Rangkasbitung, Eugenia Van Beers. Jan berjumpa dengan Eugenia dalam kunjungannya ke Indonesia. Mereka baru meninggalkan Jakarta pada 1953, dua tahun sebelum kelahiran Eddie. 

                                            Eddie Van Halen muda

Jan mengalami masa sulit. Bermodal 75 guilders (mata uang Belanda saat itu), ia nekat memboyong keluarganya ke Pantai Barat AS, persisnya di Pasadena, California pada 1962. Selain bermain musik, Jan juga bekerja sebagai cleaning service. Sedangkan sang ibu, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mereka pernah tinggal dalam sebuah rumah bersama tiga keluarga lainnya. Meski demikian Jan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, terutama dalam hal bermusik. Bersama kakaknya, Alex, Eddie belajar piano klasik saat usia SMA. Saat The Beatles dan The Rolling Stones berjaya, mereka mulai mengenal musik pop-rock. Hingga mereka berdua memutuskan membentuk Van Halen pada 1974. 

                                          Eddie dan Alex Van Halen

Permainan gitar Eddie menjadi kekhasan tersendiri dari grup yang mulai dikenal luas pada akhir 70-an. Eddie dikenal dengan teknik gitar tapping dua tangannya. Anggota awal Van Halen adalah dua bersaudara Eddie dan Alex, bersama Michael Anthony dan David Lee Roth. Pada akhir 70-an itu mereka mulai konsisten bermain di bar, klub, dan hotel. Hingga kemudian Warner Bros memberi kontrak pertama mereka. Debut album mereka dengan single Running With the Devil meledak di pasaran dan berjaya di tangga lagu banyak negara. Tahun-tahun berikutnya Eddie bersama Van Halen menjadi grup band yang memiliki banyak pemuja. Lagu-lagu mereka seperti Jump, Why Can't This Be Love, Hot For Teacher, So This Is Love menjadi lagu wajib.

Selamat jalan, Eddie Van Halen..terimakasih untuk karya-karyamu.


referensi: kompas, wiki, today online

Wednesday, September 16, 2020

Menunggu Film Dokumenter The Beatles 'Get Back'?

Pada Maret lalu beredar kabar Walt Disney Studio bakal mendistribusikan film dokumenter kiprah The Beatles pada bulan September tahun ini. Nah, apa kabarnya? Sudah bisa ditebak sih ya, masa pandemi ini menjadikan banyak hal tertunda. Termasuk rencana rilis film ini. Namun dari laman IMDB tersebutkan film yang diberi tajuk Get Back tersebut bakal rilis pada 27 Agustus 2021.

Film Get Back akan memaparkan proses kreatif The Beatles. Di antaranya adalah tayangan  55 jam proses rekaman yang selama ini belum pernah dipublikasikan. Selain itu juga 140 jam proses rekaman album 'Let It Be', yang menjadi album pamitannya The Beatles. Film yang digarap oleh Peter Jackson ini juga akan menampilkan perkawanan personel The Beatles yang dipenuhi dengan becandaan dan kekonyolan mereka. Jackson juga berperan sebagai produser bersama Clare Olssen dan Jonathan Clyde, serta Ken Kamins dan Korps Aople Jefd Jones sebagai produser eksekutif. Film dokumenter ini juga mendapat dukungan Yoko Ono Lennon dan Olivia Harrison.

Dua personel The Beatles yang tersisa, Paul McCartney dan Ringo Starr menyampaikan apresiasi positif mereka terhadap rencana film dokumenter ini. 

"Saya sangat senang Peter telah menggali arsip kami untuk membuat film yang menunjukkan yang sebenarnya tentang rekaman The Beatles. Persahabatan dan cinta di antara kami datang dan mengingatkan saya betapa indahnya waktu yang kami miliki," ujar Paul. 

Sementara itu Ringo mengakui kehebatan Peter Jackson. 

"Peter hebat dan sangat keren melihat semua rekaman ini. Ada berjam-jam di antara kami hanya tertawa dan bermain musik, sama sekali tidak seperti versi yang di luaran. Ada banyak kegembiraan dan saya pikir Peter akan menunjukkan itu. Saya pikir versi ini akan jauh lebih damai dan penuh kasih, seperti kita sebenarnya," tutur Ringo.

Simak aneka cerita tentang The Beatles dan artikel musik lainnya hanya di pecandumusik.com

Walt Disney Studios telah memegang hak untuk mendistribusikan film dokumenter empat pemuda asal Liverpool, Inggris, tersebut, bekerjasama dengan Apple Corps Ltd serta WingNut Films Productions Ltd. Bos Walt Disney Studios, Robert A Iger kepada media mengakui kalau ia adalah penggemar berat The Beatles. Di luar itu, ia menyebutkan, The Beatles telah memberikan dampak besar bagi perkembangan musik dunia. 

Kalau selama ini masa-masa penggarapan album Let It Be atau Get Back selalu digambarkan muram, murung, depresif karena perselisihan di antara mereka, konon film ini memberikan gambaran yang sebaliknya. Sebuah perspektif baru. Penasaran? Mari kita tunggu..



referensi: hai, imdb, wiki