Monday, November 29, 2021

Jurnalis dan Pengamat Musik, Bens Leo Berpulang

Kabar duka bersliweran di aneka media: Bens Leo berpulang. Bagi kalangan pegiat media dan musik, nama Bens Leo sudah sangat familiar. Karir jurnalistiknya telah dimulai sejak tahun 70-an, dengan mewawancarai grup legendaris yang berjaya pada masanya, Koes Bersaudara. 



Nama lengkapnya, Benedictus Hadi Utomo. Lahir di  Pasuruan, dan melewatkan masa kecil hingga remajanya di kota kecil di Jawa Timur tersebut. Sekolah menengah atas ia lanjutkan di Jakarta. Pada masa inilah mulai muncul ketertarikannya akan dunia jurnalistik. Ia pun aktif di majalah sekolah di SMA-nya. Obsesinya adalah menjadi jurnalis Majalah AKTUIL, majalah musik yang berpengaruh pada dekade 70-80an. 

Baca juga: Oddie Agam Berpulang

Setamat SMA, Bens Leo sempat mencoba kesempatan melanjutkan ke pendidikan militer, yakni ABRI dan pendidikan penerbangan. Keduanya tak berjodoh. Melanjutkan kuliah tak menjadi pilihannya, karena pertimbangan biaya. Alhasil, ia teringat akan obsesinya yakni menjadi jurnalis musik. Sedikit nekat, ia memantaskan diri sebagai wartawan lepas. Tahun 1971, Bens menemui Tonny Koeswoyo. Hasil wawancara, ia kirim ke redaksi Mingguan Berita Yudha Sport & Film. Karyanya dimuat seminggu kemudian, bahkan menjadi headline dalam tajuk “Sejarah Koes Bersaudara”. 

Kemampuan Bens membuat ulasan mendapatkan apresiasi positif dari pengelola Majalah Mingguan Berita Yudha Sport & Film, dan memberinya kesempatan menangani rubrik Seni Budaya. Tonny juga menunjukkan kepuasannya dan memintanya datang kembali untuk wawancara tentang perjalanan musik Koes Bersaudara. Tonny juga menjanjikan Leo diajarkan lebih jauh tentang Ilmu Jurnalistik. 

Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Liputan berikutnya, Bens Leo menemui Panjaitan Bersaudara (Panbers) atas rekomendasi Tonny Koeswoyo. Wawancara berlangsung di Sei Hang Tuah Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Hasil wawancara ia kirim ke Majalah AKTUIL, yang beralamat di Lengkong Kecil, Bandung, Jawa Barat. Dalam tulisan inilah dia mulai menggunakan nama Bens Leo. Dan lewat tulisan ini pulalah, namanya mulai dikenal sebagai wartawan musik muda. Kembali ke obsesinya semula, Bens Leo pun memutuskan menjadi penulis tetap untuk majalah AKTUIL. 

Sejak itu, karir Ben Leo tak terbendung. Ia dilibatkan dalam berbagai event musik di tanah air. Diawali sebagai Tim Dewan Juri Festival Lagu Pop Indonesia pada 1974, ajang bergengsi yang lagu-lagunya akan dikompetisikan di tingkat internasional. Dua tahun berikutnya, ia diminta mendampingi Guruh Soekarno Putra, Idris Sardi, dan Grace Simon, menghadiri World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang. Ia menjadi satu–satunya wartawan musik tanah air yang diundang untuk melakukan liputan event musik tingkat dunia tersebut. Kepercayaan untuknya tak pernah surut. Berturut-turut, dua tahun sekali, ia berangkat melakukan liputan World Pop Song Festival di Tokyo, Jepang. 

Baca juga: Eddie van Halen Tutup Usia

Sebagai jurnalis musik, Bens Leo juga telah mewawancarai banyak musisi papan atas tanah air. Catatannya menjadi cover story Majalah AKTUIL. Ia juga dilibatkan sebagai juri dalam ajang pencarian bakat untuk musisi tanah air, seperti Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) dan Festival Lagu Rock Indonesia. Pendek kata, sangat mudah menemukan nama Bens Leo di event-event musik di tanah air. 

Pada tahun-tahun ke belakang, ia terus berkecimpung di bidang musik. Menjajal kemampuannya di bidang lain, sebagai produser. Ialah yang memproduseri album perdana Kahitna, 'Cerita Cinta' yang rilis pada 1993. Bens Leo juga sempat terlibat menangani bisnis media cetak. Tak jauh, seputar informasi musik, meski hanya bertahan selama tiga tahun. Tahun 2000-an ini Bens beberapa kali menjadi bagian tim juri event musik internasional, di antaranya di Kompetisi Lagu Asean di Singapura (2003) dan World Oriental Music Festival Sarajevo, Bosnia (2005). Namanya juga masuk dalam jajaran Tim Sosialisasi Anugrah Musik Indonesia (AMI), serta Penasehat dalam ajang SCTV Awards.

Komunitas Pecinta Musik Leo Kristi mengapresiasi Bens Leo secara istimewa. Dua sosok ini kebetulan lahir di tanggal yang sama, 8 Agustus. Bens pernah menulis artikel tentang Leo Kristi. Ia  jugalah yang membawa Leo Kristi rekaman album kedua Konser Rakyat, Nyanyian Malam, di Irama Tara pada 1977. Sebelumnya, album pertama Leo Kristi, Nyanyian Fajar, direkam oleh Majalah AKTUIL.  

Demikian banyak karyanya dan keterlibatannya dalam perkembangan musik di tanah air. Hari ini ia dikabarkan berpulang, setelah beberapa hari berjuang melawan COVID-19. Bens Leo meninggal dunia pada usia 69 tahun, meninggalkan seorang istri, Pauline Endang, dan seorang anak, Addo Gustaf Putra. 

Selamat jalan, Mas Bens Leo. Selamat beristirahat dalam keabadian.

Baca juga: Mengenang John Lennon Setelah 40 Tahun 

Tuesday, November 16, 2021

Knockin' on Heaven's Door, Pilih Bob Dylan atau Guns N' Roses?

Selagi November Rain berkumandang di seantero jagat pada bulan ini, lagu-lagu lain dari Guns N' Roses pun ikut terputar. Termasuk di antaranya Knockin' on Heaven's Door, karya lama Bob Dylan yang mereka suarakan kembali. 



Baca juga: Across the Universe, Sebuah Seruan Kepada Semesta 


Mama, take this badge off of me

I can't use it anymore

It's gettin' dark, too dark for me to see

I feel like I'm knockin' on heaven's door


Dylan menulis lagu ini untuk film bertajuk Pat Garrett And Billy The Kid. Liriknya sendiri menceritakan tentang protesnya terhadap kebijakan Pemerintah Amerika Serikat dalam perang di Vietnam. "Knockin' on heaven's door" mengacu kepada ketukan pintu surga dari para korban perang. Dylan mengharapkan surga untuk mereka. Ia menulis lagu itu juga sebagai apresiasi terhadap para prajurit yang memilih untuk jalan hidupnya sebagai pembela negara, meski ia sendiri tak menyepakati terjadinya perang. 

Baca juga: Like a Rolling Stone, Karya Dylan di Antara Kelelahannya

Dylan membawakan lagu ini dalam genre folk dengan sedikit nuansa blues. Ia sekaligus memainkan gitar dan dibantu pemain lain, Roger McGuinn (gitar), Jim Keltner (drum), Carl Fortina (harmonium), Gary Foster (flute), Brenda Patterson, Carol Hunter, Donna Weiss (backing vocals). 

Ada banyak versi yang kemudian direkam oleh penyanyi lain dan grup-grup musik dunia. Bob Marley membawakannya dalam versi reggae. Guns N’ Roses dalam versi heavy metal rock. Beberapa penyanyi menyanyikan dalam versi akustik, seperti Avril Lavigne, U2, dan Bonjovi. Tak terhitung penyanyi dan grup musik yang membawakan ini lagu dalam konser live mereka. 

Yang unik, Guns N’ Roses mereka ulang gambaran untuk lagu ini. Ia menyoroti kasus bunuh diri yang sedang marak. Knockin' on Heaven's Door direkam Guns N' Roses dalam album mereka, Use Your Illusion II, yang rilis pada 1991. Tahun berikutnya, mereka membawakan lagu ini dalam konser tribute Freddie Mercury, lead singer Queen yang meninggal dunia. Knockin' on Heaven's Door versi mereka dinikmati oleh 72.000 manusia yang memadati Wembley Stadium di London.

Baca juga: Kisah Muram di Balik Lagu I Don't Like Monday


Knockin' on Heaven's Door


Ooh, ooh

Ooh, ooh

Ooh, ooh


Mama, take this badge off of me

I can't use it anymore

It's gettin' dark, too dark to see

I feel I'm knockin' on heaven's door


Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door


Mama, put my guns in the ground

I can't shoot them anymore

That long black cloud is comin' down

I feel I'm knockin' on heaven's door


Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door


Ooh, ooh


Monday, November 1, 2021

November Rain, Lagu Wajib Bulan November

"So never mind the darkness, we still can find a way. Cause nothing last forever, even cold November Rain."

Memasuki November, ini lagu menjadi salah satu yang wajib putar. Yup, November Rain. Lagu milik Guns N' Roses (GNR) ini rilis pada 1991 bersama album kedua, Use Your Illusion I. November Rain dirilis sebagai single pada Juni tahun berikutnya, menyusul single pertamanya, Don't Cry dan kedua, Live and Let Die. Di YouTube, tayangan video official November Rain sudah ditonton lebih dari 17 juta kali, yang menjadikan lagu ini dinobatkan sebagai salah satu lagu 90-an dengan penonton terbanyak di YouTube.


Baca juga:
Try to Remember, Lagu Pengantar September

Dengan segala kesuksesannya tersebut, siapa sangka kalau sebelumnya lagu ini tak diperhitungkan. Karya keroyokan Saul Hudson, Izzy Stradlin, Duff McKagan, Darren A Reed, Matt Sorum, Axl Rose ini sempat ditolak personel GNR. Lagu ini sudah selesai dibuat pada 1986, setahun mereka merilis album pertama, Appetite for Destruction. Setelah diputuskan untuk masuk di album kedua, ternyata sambutan pasar sangat antusias. Durasinya yang panjang tak menyurutkan radio broadcast untuk menyiarkannya. November Rain memecahkan rekor menjadi lagu terpanjang yang pernah masuk tangga lagu Billboard. Prestasinya hingga di posisi ketiga Billboard Hot 100.

Baca juga: Fire and Rain, Sebuah Cerita Kehilangan


November Rain


When I look into your eyes

I can see a love restrained

But darlin' when I hold you

Don't you know I feel the same?


Nothin' lasts forever

And we both know hearts can change

And it's hard to hold a candle

In the cold November rainIf we could take the time to lay it on the line

I could rest my head just knowin' that you were mine

All mine

So if you want to love me then darlin' don't refrain

Or I'll just end up walkin' in the cold November rain

Do you need some time on your own?

Do you need some time all alone?

Ooh, everybody needs some time on their own

Ooh, don't you know you need some time all alone


I know it's hard to keep an open heart

When even friends seem out to harm you

But if you could heal a broken heart

Wouldn't time be out to charm you?

Oh, oh, oh


Sometimes I need some time on my own

Sometimes I need some time all alone

Ooh, everybody needs some time on their own

Ooh, don't you know you need some time all alone


And when your fears subside

And shadows still remain, oh yeah

I know that you can love me when there's no one left to blame

So never mind the darkness, we still can find a way

'Cause nothin' lasts forever, even cold November rain

Don't ya think that you need somebody?

Don't ya think that you need someone?

Everybody needs somebody

You're not the only one

You're not the only one


Don't ya think that you need somebody?

Don't ya think that you need someone?

Everybody needs somebody

You're not the only one

You're not the only one


Don't ya think that you need somebody?

Don't ya think that you need someone?

Everybody needs somebody

You're not the only one

You're not the only one


Don't ya think that you need somebody?

Don't ya think that you need someone?

Everybody needs somebody


Baca juga: Eddie van Halen Tutup Usia


Bagaimana dengan Anda? Apakah termasuk yang wajib putar November Rain pada setiap November? 

Wednesday, October 27, 2021

Oddie Agam, Sang Hits Maker Indonesia, Berpulang

Oddie Agam berpulang hari ini, setelah beberapa pekan lalu dikabarkan kondisinya membaik pasca melakukan cuci darah karena gangguan ginjalnya. Bagi generasi 80-90an yang meminati musik, sudah pasti hafal dengan sosok satu ini. Oddie Agam dengan karya-karya terbaiknya di tanah air, baik yang disuarakannya sendiri, terlebih lewat penyanyi lain. Yup, Oddie merupakan salah satu hits maker Indonesia.


Baca juga: Gitaris Burgerkill Meninggal Dunia

Ada puluhan lagu Oddie Agam yang berjaya di tanah air. Lagu-lagu yang sukses di panggung maupun terjual di pasaran. Dari suara Vina Panduwinata kita mengenal 'Wow', 'Surat Cinta', 'Bahasa Cinta', 'Logika', dan 'Tamu Istimewa'. Siapa pula yang tak kenal 'Antara Anyer dan Jakarta', lagu yang nge-hits lewat suara penyanyi negeri jiran, Sheila Majid, yang di kemudian hari juga dibawakan Oddie sendiri. Model yang juga menyanyi, Itang Yunaz, sukses dengan 'Aku Cinta Padamu'. Karya Oddie 'Puncak Asmara' juga melengkapi kumpulan lagu di album Utha Likumahua. Ada dua lagu sukses lewat suara Mus Mujiono, 'Tanda Tandanya' dan 'Arti Kehidupan'. 'Memory' dari Ruth Sahanaya tentu saja termasuk di dalamnya. Dan masih banyak yang lainnya. Pendek kata, nama Oddie Agam seolah menjadi jaminan kesuksesan sebuah lagu.

Baca juga: Eddie Van Halen Tutup Usia

Oddie sendiri juga merilis album solonya. Album perdananya, Aku, Kau & Dia, rilis pada 1983. Namanya belum banyak dikenal saat itu. Begitu pun saat ia merilis album kedua, Bellina, belum juga mengangkat namanya. Meski album tersebut mengutip nama Bellina, dari Meriam Bellina yang tengah berjaya karena memenangkan Piala Citra di film Cinta di Balik Noda. Saat merilis album ketiga, Gadis Sentimentil, pada 1986, namanya sudah banyak dikenal sebagai pencipta lagu. Pada 1990, Oddie menggandeng empat penyanyi perempuan yang tengah berjaya masa itu, Vina Panduwinata, Anggun, Malyda, dan Asti Asmodiwati. Album bertajuk namanya. Saat namanya mulai meredup, Oddie mempersembahkan karya-karyanya dalam album kelimanya, album yang merupakan kumpulan karya terbaiknya selama satu dekade. Ia menamai albumnya, The Best of 84-94. 

Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Nama aslinya, ada yang tahu? Imran Madjid! Laki-laki kelahiran 19 Maret 1953 ini mengawali kariernya di kancah musik lewat karyanya di film bertajuk Istana Kecantikan. Oddie kita kenal juga sebagai suami dari penyanyi Chintami Atmanegara. Mereka menikah pada 1988 dan bertahan selama 4 tahun dengan seorang anak. Pernikahannya yang kedua ia lakukan pada tahun 2014, dengan perempuan bernama Almafilia.

Selamat jalan, Oddie Agam. Terima kasih untuk karya-karyamu.


Monday, October 11, 2021

Mendhung Tanpa Udan Karya Viral Kukuh Prasetya Kudamai

Mendhung Tanpa Udan! Beberapa waktu terakhir, lagu ini berkumandang dari berbagai tempat, lewat banyak penyanyi. Bahkan penyanyi senior Iwan Fals pun ikut meramaikannya dengan versinya. Saking banyaknya versi ini lagu, banyak yang lantas tergagap bertanya: ini lagu siapa sih? Yup, ini lagu karya Kukuh Prasetya Kudamai yang dikenal pertama kali lewat versi Ndarboy Genk.




Baca juga: Gitaris Burgerkill Meninggal

“Awak dhewe tau duwe bayangan, besok yen wis wayah omah-omah.. Aku maca koran sarungan, kowe blanja dhasteran. Nanging saiki wes dadi kenangan, aku karo kowe wis pisahan, aku kiri kowe kanan wis beda dalan…. “ 

Di atas adalah penggalan Mendhung Tanpo Udan. Lirik yang sederhana dan mudah diingat. Ini lagu viral di Tiktok dan reel Instagram. Tak kurang Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pun menggunakannya di reel Instagramnya.

Jadi, siapa sih Kukuh ini?

Nama lengkapnya Muhammad Kukuh Prasetya. Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini mengawali karir bermusiknya dengan bergabung di grup musik Sri Rejeki pada 2014. Ia pernah pula membangun band sendiri, band hardcore di Madiun. Kukuh juga menapakkan jejaknya di dunia peran, terlibat di sejumlah sinetron. Mendhung Tanpa Udan sendiri ia tulis saat ia baru diberhentikan dari keikutsertaannya di salah satu sinetron TV Nasional, pada awal pandemi tahun lalu.

Baca juga: Pelangi Cinta dalam Versi Baru

Butuh  waktu tujuh bulanan bagi Kukuh menuntaskan Mendhung Tanpa Udan. Produksinya sendiri dibantu pencipta lagu, Kris Sagara di Jakarta, dan peniup terompet, Anas di Yogyakarta. Akhirnya berhasil rilis pada 12 Februari 2021.

Mendhung Tanpa Udan

Kisah iki

Kesimpen rapi

Neng jero sepi

Udan tanpa mendhung

Gawe ati bingung

Ra isa tak bendung

Banyu tiba gawa teka rasa

Rasa seng wes tau tak kon lunga

Aku wong sing ora gampang sayang

Merga aku wedi krasa peteng neng gon padhang

Sakwise udan terang

Abot ati iki

Arep ninggalke perasaan

Awak dhewe tau duwe bayangan

Besok yen wis wayah omah-omahan

Aku maca koran sarungan

Kowe blanja dhasteran

Ee... Tapi...

Udan tanpa mendhung

Gawe ati bingung

Ra isa tak bendung

Banyu tiba gawa teka rasa

Rasa sing wis tau tak kon lunga

Aku wong sing ora gampang sayang

Merga aku wedi krasa peteng neng gon padhang

Sakwise udan terang

Yen pancen kowe jodhoku

Gusti, bapak, lan ibu

Kula nyuwun pengestu

Aku wong seng ora gampang sayang

Merga aku wedi krasa peteng neng gon padhang

Sakwise udan terang

Abot ati iki

Arep ninggalke perasaan

Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Catatan:

Dilakukan perubahan ejaan dalam penulisan lirik lagu, semata memenuhi kaidah bahasa Jawa baku, tanpa konfirmasi ke penulis lirik.

Friday, September 3, 2021

Gitaris Band Cadas Bandung, Burgerkill, Eben, Berpulang

Penggemar musik cadas tanah air, terutama warga Bandung dibuat kaget oleh kabar kepergian gitaris sekaligus pendiri Burgerkill, Eben. Kepergian mendadak sosok bernama asli Aris Tanto pada Jumat (3/9/2021) dikabarkan karena serangan jantung.



Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Kehadiran Burgerkill di pertengahan tahun 90-an menyentak dunia musik tanah air. Musik super keras yang mereka usung menjadi fenomena tersendiri. Bagi warga Bandung, meski bukan penggemar musik cadas, mengenal nama ini. Terlebih grup ini lahir di kawasan tumbuh dan berkembangnya death metal/grindcore Bandung. 

Ebenlah yang mengawali. Pada Mei 1995, Eben hijrah dari Jakarta ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya. Di sekolah, Eben bertemu dengan Ivan, Kimung, dan Dadan sebagai line-up pertamanya. Sebagai band baru, mereka bermain sebagai band pembuka di event-event panggung musik metal. Hingga kemudian Eben mulai buka koneksi dengan komunitas di Jakarta lantas memberinya banyak job manggung. Antusiasme penikmat musik underground terhadap Burgerkill mulai terpupuk. 

Baca juga: Eddie van Halen Tutup Usia

Di satu sisi mereka sukses mendapatkan publisitas, di sisi lain personil beberapa kali mengalami perubahan. Hingga line-up solid yang kita kenal kini.

Kesempatan bagus datang pada awal 1997. Tawaran untuk bergabung dalam album kompilasi. Sejumlah nama yang sudah cukup dikenal oleh penikmat hardcore Bandung antara lain Full Of Hate, Puppen, dan Cherry Bombshell. Dalam album yang dijuduli  'Masaindahbangetsekalipisan' tersebut,  lagu milik Burgerkill, Revolt! menjadi nomor pembuka. Album ini laris manis, terjual 1000 keping dalam waktu singkat.

Jelang pergantian tahun, anak-anak muda ini kembali membuat gebrakan dengan menghadirkan album kompilasi baru, 'Breathless'. Burgerkill menyumbangkan singlenya 'Offered Sucks'. Melengkapi prestasi, awal 1998, Burgerkill merilis single Blank Proudness. Lagu ini tergabung dalam album kompilasi band-band Grindcore Ujungberung bertajuk 'Independent Rebel'. Single rilisan mereka mendapatkan sambutan positif publick musik keras, bukan hanya di tanah air namun juga di negeri jiran. Tawaran-tawaran rekaman pun terus berdatangan. Hal tak menyenangkan datang, tak terhindarkan. Toto memutuskan mundur, yang lalu disusul berpulangnya sang vokalis, Ivan.  

Baca juga: Mark Chapman dan Peristiwa Kematian John Lennon

Demikianlah, Burgerkill makin berkibar dan bertahan hingga tahun-tahun terakhir. Selain sukses dalam rekaman, Burgerkill  mengantongi sejumlah penghargaan. BUkan hanya di lingkup underground, namun juga mainstream achievement misalnya saat mereka menjadi nominator Band Independent Terbaik ala majalah NewsMusik pada tahun 2000.

Sekali lagi, selamat jalan, Eben.. Burgerkill semoga terus berkarya. 

Thursday, September 2, 2021

Try to Remember, Lagu Pengantar September

Try to Remember, lewat siapa lagu ini Anda dengar pertama kali? Saya: Brothers Four! Yang sesungguhnya, lagu ini dibawakan The Fantasticks pada 1960. 


Baca juga: September Ceria, Penanda Datangnya September

The Fantasticks merupakan sebuah pentas musik yang digarap oleh Harvey Schmidt dan Tom Jones pada lirik. Idenya sendiri mengadopsi cerita cinta yang pernah dikenal pada abad sebelumnya. Kisah ini terus dipanggungkan dari masa ke masa. Konon hingga awal tahun 2000 saja sudah tercatat lebih dari 17 ribu penampilan di Broadway, dan menjadikannya sebagai drama musikal terabadi. Sedangkan musik yang digarap oleh Lore Noto menerima penghargaan Tony Honors for Excellence in Theatre pada 1991. 

Seperti komposisi lainnya, lirik Try to Remember digarap oleh Tom Jones dengan musik garapan Harvey Schmidt. Lagu ini masuk dalam daftar Billboard Hot 100 sebanyak tiga kali selama 1965, dari 3 versi penyanyi sekaligus yakni Ed Ames, Roger Williams, dan Barry McGuire. Bukan hanya di Amerika, lagu ini juga berjaya di negara dan benua lain. Yang tercatat cukup berprestasi di tangga lagu Australia adalah trio New World yang mencapai posisi 11 pada akhir 1968. Gladys Knight & the Pips mencetak sukses internasional pada 1975. Versi mereka menempati posisi 11 di US Hot 100, dan posisi 4 di Britania Raya. 

Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Try to Remember

Try to remember the kind of September

When life was slow and oh, so mellow

Try to remember the kind of September

When grass was green and grain was yellow

Try to remember the kind of September

When you were a tender and callow fellow

Try to remember and if you remember

Then follow, follow

Try to remember when life was so tender

That no one wept except the willow

Try to remember the kind of September

When love was an ember about to billow

Try to remember and if you remember

Then follow, follow

Deep in December, it's nice to remember

Although you know the snow will follow

Deep in December, it's nice to remember

The fire of September that made us mellow

Deep in December, our hearts should remember

And follow, follow, follow


Wednesday, December 23, 2020

Across The Universe, Sebuah Seruan pada Semesta

Across The Universe muncul dan dirilis pertama kali bersama album kompilasi No One's Gonna Change Our World pada 1969. Album ini dirancang sebagai charity dalam kampanye the World Wildlife Fund (WWF). Saat itu WWF tengah menggugat World Wrestling Federation untuk berhenti memakai akronim yang sama. Ini lagu ditulis oleh John Lennon dengan kredit Lennon-McCartney. Pada versi ini dilengkapi dengan suara kicauan burung yang menandai kentalnya peristiwa alam. Berbeda dengan versi yang rilis bersama album Let It Be.


Baca juga: The Beatles, Maharishi, dan Sexy Sadie

Satu kalimat khas yang kita temukan pada lagu ini adalah Jai Guru Deva Om. Kalimat ini serupa mantra yang mengajak pendengarnya untuk berhening menuju ke kesadaran yang lebih tinggi. Kalimat dari Bahasa Sanskerta ini bermakna: saya berterima kasih kepada Guru Dev. Kalimat-kalimat serupa akrab dengan The Beatles saat mereka berkunjung ke India. Bahkan saat mengunjungi Maharishi di Rishikesh, John sempat membeli gelang kuningan bertuliskan Jai Guru Dev di bagian atasnya. 

Saat melakukan rekaman Across The Universe, sempat terjadi ketegangan antara John dan Paul. Namun akhirnya proses rekaman yang berlangsung sepanjang Februari 1968 tersebut tuntas, dan hasilnya seperti yang kita nikmati kini. Pada 1975, David Bowie membawakan lagu ini dengan Lennon pada gitar. Versi Bowie rilis Bersama album Young Americans.

Baca juga: Kalender The Beatles 1964


Across The Universe

(Let It Be version)


Words are flowing out like endless rain into a paper cup

They slither while they pass, they slip away across the universe

Pools of sorrow waves of joy are drifting through my opened mind

Possessing and caressing me


Jai guru deva om

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world


Images of broken light which dance before me like a million eyes

They call me on and on across the universe

Thoughts meander like a restless wind

Inside a letter box they

Tumble blindly as they make their way

Across the universe


Jai guru deva om

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world


Sounds of laughter shades of life are ringing

Through my open ears inciting and inviting me

Limitless undying love which shines around me like a million suns

And calls me on and on across the universe


Jai guru deva om

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world


Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva...

Baca juga: The Beatles di New Zealand

Tuesday, December 22, 2020

Fire and Rain, Sebuah Cerita Kehilangan

Lewat suara siapa Anda mendengarkan Fire and Rain? Babyface? Dido? Bagi yang pernah melewati dekade 70-an atau tahun-tahun tak terlalu jauh setelahnya, mungkin mengenali lagu ini suara John Denver atau Willie Nelson atau tentu saja sang pemilik lagu, James Taylor. Carole King, yang sebelumnya telah bekerja sama dengan Taylor pada lagu You’ve Got A Friend, terlibat dalam permainan piano.



Baca juga: Eddie Van Halen Berpulang

Yup, Fire and Rain dirilis pertama kali pada Februari 1970 lewat suara James Taylor. Ia sendiri juga yang menulis liriknya. Taylor bercerita tentang kawan masa kecilnya, Suzanne Schnerr yang mengakhiri hidupnya, dan perjuangannya membebaskan diri dari ketergantungan obat. Peristiwa kematian Schnerr terjadi saat ia berada di London, Inggris, melakukan rekaman di Apple Records untuk album pertamanya. Saat itu ia juga tengah mengalami depresi karena kegagalan dengan band yang dibentuknya. The Flying Machine. Taylor berhasil menuntaskan ini lagu saat sedang melakukan rehabilitasi untuk ketergantungannya. 

Baca juga: Somewhere Over The Rainbow, Lagu Abadi

Fire and Rain rilis sebagai single untuk album keduanya, Sweet Baby James, pada Februari 1970. Tak lama setelah rilis, berhasil menjadi runner up di tangga lagu Kanada, dan berada di posisi tiga Billboard Hot 100. 


Fire and Rain


Just yesterday morning they let me know you were gone

Susanne the plans they made put an end to you

I walked out this morning and I wrote down this song

I just can't remember who to send it to

I've seen fire and I've seen rain

I've seen sunny days that I thought would never end

I've seen lonely times when I could not find a friend

But I always thought that I'd see you again

Won't you look down upon me, jesus

You've got to help me make a stand

You've just got to see me through another day

My body's aching and my time is at hand

And I won't make it any other way

Oh, I've seen fire and I've seen rain

I've seen sunny days that I thought would never end

I've seen lonely times when I could not find a friend

But I always thought that I'd see you again

Been walking my mind to an easy time my back turned towards the sun

Lord knows when the cold wind blows it'll turn your head around

Well, there's hours of time on the telephone line to talk about things

To come

Sweet dreams and flying machines in pieces on the ground

Oh, I've seen fire and I've seen rain

I've seen sunny days that I thought would never end

I've seen lonely times when I could not find a friend

But I always thought that I'd see you, baby, one more time again, now

Thought I'd see you one more time again

There's just a few things coming my way this time around, now

Thought I'd see you, thought I'd see you fire and rain, now

Baca juga: Mark Chapman dan Peristiwa Kematian John Lennon

Wednesday, December 9, 2020

Mengenang Lennon, Setelah 40 Tahun Kepergiannya

Tanggal 8 Desember 2020, beatlemania di berbagai belahan dunia memperingati peristiwa kematian John Lennon dengan caranya masing-masing. Sudah 40 tahun berselang, namun para penggemar tak pernah lupa. Ingatan akan peristiwa tertembaknya Lennon yang berakhir dengan kematiannya, tak akan lekang oleh waktu.

Sebuah catatan menarik ditulis oleh sebuah akun fesbuk dengan nama Love from George. Menarik, karena ternyata angka 40 ini punya makna khusus. John meninggal di usia 40 tahun.

Baca juga: Peringatan Kematian John Lennon 2019

 

Paul McCartney, melalui akunnya juga berbagi kenangan tentang kawan seperjuangannya tersebut. Ia mengunggah foto karya istrinya, saat ia duduk berdampingan dengan Lennon. 


Baca juga: Rekaman Decca, Awal Mula The Beatles

Di akun twitternya, Ringo Starr juga membagikan kenangannya terhadap Lennon. Seperti Paul, ia pun mengunggah fotonya saat berdua dengan Lennon. 

Penyanyi Cat Stevens atau Yusuf Islam juga menunjukkan apresisasinya. Ia menyebut Lennon sebagai perancang perdamaian di masa depan.


Baca juga: Menunggu Film Dokumenter The Beatles?

Akun musik In Music We Trust menampilkan foto Ozzy Osbourne yang sedang meletakkan bunga di monumen Strawberry Field di Central Park.


Seperti kita tahu, Lennon meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, setelah ditembak Mark David Chapman pada 8 Desember 1980. Chapman sendiri hingga kini masih mendekam di penjara. Upaya evaluasi hukuman terhadap Chapman dilakukan empat tahun sekali. Namun hingga tahun ini, Yoko tak memberikan persetujuannya atas pembebasan Chapman dengan pertimbangan kejadian serupa dapat berulang.

Baca juga: Mark Chapman dan Persitiwa Kematian John Lennon

Yoko sendiri tahun ini kembali menggaungkan kampanye tentang pembatasan penggunaan senjata. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kembali ia unggah foto kacamata yang dipakai Lennon saat penembakan terjadi. Terlihat bercak darah pada bagian kiri kacamata.

Ia juga mengungkapkan kekangenan mereka, dia sendiri bersama Julian dan Sean terhadap sosok Lennon.

Baca juga: John Lennon, Yoko Ono, dan Pernikahan Mereka

 

 

Wednesday, December 2, 2020

Revolution 9, Lagu Absurd di White Album

Revolution 9, lagu apakah sesungguhnya? Atau ini tak bisa disebut lagu? Yang pasti, judul yang dapat kita temukan di White Album ini tak pernah dimunculkan dalam playlist siarannya penulis. Terlalu absurd, yang tak dapat diterima oleh semua pendengar yang notabene beragam. Bahkan konon sebetulnya ini lagu tak disetujui semua personel untuk dimasukkan dalam album.

Jadi, apa sesungguhnya Revolution 9

Baca juga: Menunggu Film Dokumenter The Beatles

Revolution 9 adalah kumpulan suara acak. Suara manusia yang monoton menyebut 'number nine', obrolan yang tak jelas, dan aneka musik. Berangkat dari lagu Revolution, John Lennon mengimbuhi dengan potongan-potongan suara, pidato, obrolan, pertunjukan musik, dengan coda yang tak terpakai. Semuanya dimanipulasi dengan distorsi, echo, aneka panning dan fading. Pertunjukan musik yang diambil, beberapa di antaranya adalah dari pertunjukan musik klasik seperti O Clap Your Hand karya Vaughan Williams Motet. Lalu ada potongan cord penghujung Symphony No 7, dan komposisi Beethoven Choral Fantasy, The Streets of Cairo. Ada pula komposisi Schumann Studi Symphonic yang diputar terbalik. 

Baca juga: The Beatles dan Odeon Cinema

Potongan lagu The Beatles juga dijadikan bagian. Ada komposisi biola dari lagu A Day in the Life, ditimbal suara George Martin: "Geoff, put the red light on”. Beberapa lagu unik juga mendapatkan porsi, seperti lagu dari Arab, Awwal Hamsa. Rekaman nyanyian sepak bola Amerika, Hold that line! Block that kick! juga tak luput. Tambahan lainnya, potongan pertunjukan opera entah milik siapa, dan musik-musik yang diputar terbalik. 



Banyak yang berspekulasi tentang lagu ini. Tentang chaos dan kekerasan, hal-hal yang melekat pada revolusi. Juga dikaitkan dengan rumor kematian Paul McCartney. 

Baca juga: Album With The Beatles