Wednesday, February 23, 2022

Vokalis Utama Procol Harum, Gary Brooker Meninggal Dunia

Penyanyi utama Procol Harum, Gary Brooker, berpulang Sabtu lalu. Kabarnya baru muncul di aneka media tanah air hari ini, karena halaman resmi Facebook grup ini baru membuat pengumumannya pada Selasa, 22 Februari 2022, waktu setempat, pada usianya yang ke76 tahun. Apa yang kalian ingat tentang nama ini?  


Baca juga: Selamat Jalan, Meatloaf

Gary Brooker memang sudah lama didagnosis menderita kanker. Akhirnya ia menyerah pada Sabtu, 19 Februari 2022. Lahir pada 29 Mei 1945 di Hackney, Inggris, Brooker telah mengenal musik sedari kanak. Ayahnya, Harry Brooker, adalah pemusik profesional. Tak heran jika Brooker telah bermain piano, cornet, dan trombone sejak bocah. Sayang sang ayah meninggal dunia saat ia baru 11 tahun. Bukannya belajar musik, Booker memilih jalur sekolah dengan belajar zoology dan botany di Southend Municipal College. Pendidikan formal lantas ditinggalkannya, dan menjadi musisi profesional. 

Saat berusia 17 tahun, Brooker sempat membentuk band, The Paramounts bersama gitaris Robin Trower. Mereka banyak mendapatkan undangan manggung, beberapa kali sempat berbagi panggung  bersama Rolling Stones. Tahun 1964, mereka sempat merilis single Poison Ivy, dan terhitung sukses. Sayangnya, grup ini hanya bertahan hingga 1966. Brooker yang awalnya akan berhenti menulis lagu, malah berjumpa penulis lirik Keith Reid. Mereka lantas mendirikan grup yang dinamai Procol Harum.

Baca juga: Mengenang 40 Tahun Lennon

Suara dan piano merupakan paduan khas seorang Brooker. Melekat betul selama ia memimpin Procol Harum selama lebih 50 tahun berkarya. Brooker dikenal juga memiliki selera humor yang baik.

"Dia menerangi setiap ruangan yang dia masuki, dan kebaikannya kepada keluarga hingga penggemar multibahasa, sangat legendaris. Dia juga terkenal karena individualitasnya, integritasnya, dan terkadang eksentrisitasnya, keras kepalanya. Kecerdasannya yang tajam dan seleranya yang konyol, membuatnya menjadi pencerita yang tak ternilai (dan candaan antarlagunya yang surealis membuat kontras yang menarik dengan gravitasi penampilan Procol Harum)." Demikian tertulis dalam akun official media sosial Procol Harum.

Baca juga: Jurnalis Musik, Bens Leo Meninggal Dunia

Salah satu karya Brooker bersama Procol Harum adalah single debut mereka, A Whiter Shade of Pale. Lagu yang rilis pada 1967 tersebut terinspirasi dari musisi klasik seperti Johann Sebastian Bach dan George Frideric Handel. Pada 2018 lalu, A Whiter Shade of Pale didaulat di Rock and Roll Hall of Fame. Di tangga lagu, A Whiter Shade of Pale berhasil bertengger di puncak lagu di Inggris selama enam pekan, serta nomor lima di Billboard Hot 100. Sementara, album The Summer of Love terjual total 10 juta kopi di seluruh dunia. 

Selain berkarya dalam bidang musik, Brooker juga melakukan banyak kegiatan kemanusiaan. Pada 2003, Ratu Inggris menganugerahi Brooker, MBE (Most Excellent Order of the British Empire), atas upaya kemanusiaannya. 


Monday, February 21, 2022

Home Sweet Home, Saat Band Metal Rindu Rumah

Suatu saat, kita begitu menginginkan perjalanan. Traveling. Atau dalam konteks mereka, road show. Namun, selalu ada saat rindu untuk pulang. Berada dalam kehangatan rumah. Ini lebih kurang yang dikatakan bassist yang sekaligus penulis lirik Motley Crue, Nikki Sixx, tentang lagu mereka ini, Home Sweet Home.  


Baca juga: You Learn, Ajakan Belajar Kehidupan ala Alanis Morrisette

Home Sweet Home ada di album Theater Of Pain, yang rilis pada 1985. Versi lain lagu ini, dengan tambahan instrumental, dirilis enam tahun kemudian, dalam album kompilasi, Decade of Decadence 81-91 yang mendapatkan sukses ekstra di tangga lagu. 

Mötley Crüe sendiri adalah grup asal Amerika dengan personel Nikki Sixx, Tommy Lee, Mick Mars, dan Vince Neil. Terbentuk di Los Angeles, California pada 1980, Motley Crue dikenal band dengan banyak bikin kisruh. Para personelnya pernah kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang. Mereka juga berulang kali berurusan dengan pihak berwajib karena kasus-kasus kriminalitas. 

Baca juga: Knockin' on Heaven's Door, Versi Siapa Paling Kau Suka?


Home Sweet Home


You know I'm a dreamer

But my heart's of gold

I had to run away high

So I wouldn't come home low

Just when things went right

It doesn't mean they were always wrong

Just take this song

And you'll never feel left all alone

Take me to your heart

Feel me in your bones

Just one more night

And I'm coming off this long and winding road

I'm on my way

I'm on my way

Home sweet home

Tonight, tonight I'm on my way

I'm on my way

Home sweet home

You know that I've seen

Too many romantic dreams

Up in lights, falling off the silver screen

My heart's like an open book

For the whole world to read

Sometime nothing keeps me together at the seams

I'm on my way

I'm on my way

Home sweet home

Tonight, tonight I'm on my way

Just set me free

Home sweet home

Home sweet home

Home sweet home

Home sweet home

I'm on my way

I'm on my way

Home sweet home

Yeah, I'm on my way

Just set me free

Home sweet home


Baca juga: Selamat Jalan, Meat Loaf

Thursday, February 10, 2022

You Learn, Ajakan Belajar Kehidupan dari Alanis Morissette

'Live and Learn' menjadi frasa yang jamak dibicarakan dalam keseharian. Pengingat untuk hidup yang selalu belajar. Istilah yang seringkali dipakai untuk berdamai dengan sebuah kondisi yang negatif atau tidak menyenangkan. Dan bukan kebetulan, ketika Alanis Morissette mengalami peristiwa tak menyenangkan tersebut saat baru pindah ke Los Angeles, ia dirampok oleh pria bersenjata. Jadilah, You Learn kontekstual dengan pengalamannya sendiri. 


Baca juga: What's Up, Kegundahan Dalam Perjalanan Waktu

Lagu ini ditulis Alanis bersama Glen Ballard, yang sekaligus memproduksi albumnya, Jagged Little Pill. Lirik 'Swallow it down, what a jagged little pill', dimaksudkan sebagai 'a hard pill to swallow,' yang artinya, berdamai dengan sesuatu yang sulit itu memang harus dilakukan. Tak ada pilihan lain.

You Learn merupakan single keempat dari album ketiga Alanis, Jagged Little Pill yang rilis pada 1995.

Baca juga: Hanyalah Cinta, Persembahan Anggun Untuk Indonesia


You Learn


Oh, oh, oh


I, recommend getting your heart trampled on to anyone, yeah

I, recommend walking around naked in your living room, yeah


Swallow it down (what a jagged little pill)

It feels so good (swimming in your stomach)

Wait until the dust settles


You live you learn, you love you learn

You cry you learn, you lose you learn

You bleed you learn, you scream you learn


I, recommend biting off more than you can chew to anyone

I certainly do

I, recommend sticking your foot in your mouth at any time

Feel free


Throw it down (the caution blocks you from the wind)

Hold it up (to the rays)

You wait and see when the smoke clears


You live you learn, you love you learn

You cry you learn, you lose you learn

You bleed you learn, you scream you learn


I, I, oh, oh


Wear it out (the way a three-year-old would do)

Melt it down (you're gonna have to eventually, anyway)

The fire trucks are coming up around the bend


You live you learn, you love you learn

You cry you learn, you lose you learn

You bleed you learn, you scream you learn


You grieve you learn, you choke you learn

You laugh you learn, you choose you learn

You pray you learn, you ask you learn

You live you learn


Baca juga: Spirit of Radio, Apresiasi Rush untuk Dunia Broadcasting

Friday, January 21, 2022

Selamat Jalan, Meat Loaf

Dunia musik berduka. Pemenang Grammy Award, Meat Loaf, dikabarkan meninggal dunia pada Kamis malam waktu setempat. Belum disebutkan, penyebab kematiannya. Kabar itu dibagikan agen yang telah lama mendampinginya, Michael Greene. Saat pergi, istrinya, Deborah, ada di sampingnya. 


Baca juga: Eddie van Halen Tutup Usia

Penyanyi dengan nama asli Michael Lee Aday ini lahir pada 27 September 1947. Ia telah menandatangi kontrak rekaman pada usia 20 tahunan. Pengalamannya manggung membuka band Van Morrison merupakan pertunjukan pertamanya. Pengalaman yang membawanya bergabung dengan produksi film musikal 'Hair' di Los Angeles, yang kemudian memberinya kesempatan rekaman bersama Motown. 

Kesuksesan baru diraih Loaf pada 1977. Album Bat Out of Hell, yang digarap dalam kurun lama, akhirnya rilis. Album trilogi ini, Bat Out of Hell - Bat Out of Hell II: Back into Hell - Bat Out of Hell III: The Monster Is Loose berhasil mencetak sukses dengan terjual lebih dari 65 juta album di dunia. Setelahnya, lebih dari empat dekade setelah dirilis, masih berhasil terjual ratusan ribu kopi, menjadikan salah satu karya Meat Loaf ini masuk dalam jajaran album dengan penjualan terbanyak dalam sejarah. Diyakini, penjualan album Loaf sudah lebih dari 100 juta di dunia. Meat Loaf memenangkan Grammy Award untuk I'd Do Anything for Love pada pertengahan 1990an. 

Baca juga: Mengenang Lennon, Setelah 40 Tahun Kepergiannya

Meat Loaf muncul di sejumlah film. Dengan beban peran, maupun tampil sebagai diri sendiri. Dari lebih 50 film layar lebar dan televisi, dua perannya ini mungkin pernah Anda tonton: sebagai Eddie di The Rocky Horror Picture Show (1975), dan sebagai Bob Paulson in Fight Club (1999).  Film-film lainnya, "Focus", "Rocky Horror Picture Show", dan "Wayne’s World." Dengan kemampuan suaranya, Loaf juga pernah menjadi bagian dari pertunjukkan tema horor di Broadway. 

Selamat jalan, Meat Loaf. Terima kasih untuk karya-karyamu. 

Baca juga: Fire and Rain, Sebuah Cerita Kehilangan


Saturday, December 11, 2021

Melangkah Pasti, Lagu Sukses Henry Manuputty

Nama Henry Manuputty muncul di awal tahun delapan puluhan, melejit dengan sejumlah hits. Sukses yang sekaligus juga ditunjukkan oleh Jackson Records, perusahaan rekaman yang mengusung nama-nama yang telah menanjak ke papan atas penyanyi tanah air, seperti Vina Panudiwinata, Utha Likumahuwa, Dian Pramana Poetra, Kiki Maria, dan Indra Lesmana. 


Baca juga: Oddie Agam Berpulang

Keberhasilan Henry Manuputty tak lepas dari sosok-sosok yang mendukung di belakangnya. Nama-nama yang seolah menjadi jaminan kualitas karya musik. Sebut saja Addie MS, James F Sundah, Dodo Zakaria, Tito Soemarsono, dan Ricky Basuki. Album bertajuk Untukmu Damai yang rilis pada 1983 ini mencuatkan dua hits, yakni Melangkah Pasti dan Maafkan. Sayangnya penyanyi berdarah Maluku yang besar di Surabaya ini harus cukup puas dengan kesuksesan satu-satunya album miliknya ini. Kareba setelahnya, karirnya surut dan namanya menghilang dari percaturan musik pop tanah air. 

Baca juga: Pelangi Cinta Dalam Versi Baru


Melangkah Pasti


Kau datang saat aku kehilangan arah

Seraya kau genggam jemmari tanganku

Lalu lenyaplah hari-hari resah

Yang selama ini membelenggu


Kuhamparkan smua gundah dibelasi kasihmu

Dan kau terima dengan hati yang tulus

Lalu pagi pun bertambah cerah

Diiringi nyanyian seribu cinta


Mari...mari...kasih

Mari langkahkan kaki dengan pasti

Mari lupakan masa lalu yang suram


Mari...mari...kasih

Mari langkahkan kaki dengan pasti

Mari kejar semua ketinggalan


Yang kau beri bukanlah sekedar asmara

Namun juga senyum pembangkit gelora

Api dalam jiwa kini menyala

Berkobar dan seakin besar


Baca juga: Fire and Rain, Sebuah Cerita Kehilangan


Judul Album: Untukmu Damai

Artis      : Henry Manuputty

Tahun Produksi: 1983

Music Director: Addie MS

Produser   : Jackson Arief

Produksi   : Jackson Records


Monday, November 29, 2021

Jurnalis dan Pengamat Musik, Bens Leo Berpulang

Kabar duka bersliweran di aneka media: Bens Leo berpulang. Bagi kalangan pegiat media dan musik, nama Bens Leo sudah sangat familiar. Karir jurnalistiknya telah dimulai sejak tahun 70-an, dengan mewawancarai grup legendaris yang berjaya pada masanya, Koes Bersaudara. 



Nama lengkapnya, Benedictus Hadi Utomo. Lahir di  Pasuruan, dan melewatkan masa kecil hingga remajanya di kota kecil di Jawa Timur tersebut. Sekolah menengah atas ia lanjutkan di Jakarta. Pada masa inilah mulai muncul ketertarikannya akan dunia jurnalistik. Ia pun aktif di majalah sekolah di SMA-nya. Obsesinya adalah menjadi jurnalis Majalah AKTUIL, majalah musik yang berpengaruh pada dekade 70-80an. 

Baca juga: Oddie Agam Berpulang

Setamat SMA, Bens Leo sempat mencoba kesempatan melanjutkan ke pendidikan militer, yakni ABRI dan pendidikan penerbangan. Keduanya tak berjodoh. Melanjutkan kuliah tak menjadi pilihannya, karena pertimbangan biaya. Alhasil, ia teringat akan obsesinya yakni menjadi jurnalis musik. Sedikit nekat, ia memantaskan diri sebagai wartawan lepas. Tahun 1971, Bens menemui Tonny Koeswoyo. Hasil wawancara, ia kirim ke redaksi Mingguan Berita Yudha Sport & Film. Karyanya dimuat seminggu kemudian, bahkan menjadi headline dalam tajuk “Sejarah Koes Bersaudara”. 

Kemampuan Bens membuat ulasan mendapatkan apresiasi positif dari pengelola Majalah Mingguan Berita Yudha Sport & Film, dan memberinya kesempatan menangani rubrik Seni Budaya. Tonny juga menunjukkan kepuasannya dan memintanya datang kembali untuk wawancara tentang perjalanan musik Koes Bersaudara. Tonny juga menjanjikan Leo diajarkan lebih jauh tentang Ilmu Jurnalistik. 

Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Liputan berikutnya, Bens Leo menemui Panjaitan Bersaudara (Panbers) atas rekomendasi Tonny Koeswoyo. Wawancara berlangsung di Sei Hang Tuah Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Hasil wawancara ia kirim ke Majalah AKTUIL, yang beralamat di Lengkong Kecil, Bandung, Jawa Barat. Dalam tulisan inilah dia mulai menggunakan nama Bens Leo. Dan lewat tulisan ini pulalah, namanya mulai dikenal sebagai wartawan musik muda. Kembali ke obsesinya semula, Bens Leo pun memutuskan menjadi penulis tetap untuk majalah AKTUIL. 

Sejak itu, karir Ben Leo tak terbendung. Ia dilibatkan dalam berbagai event musik di tanah air. Diawali sebagai Tim Dewan Juri Festival Lagu Pop Indonesia pada 1974, ajang bergengsi yang lagu-lagunya akan dikompetisikan di tingkat internasional. Dua tahun berikutnya, ia diminta mendampingi Guruh Soekarno Putra, Idris Sardi, dan Grace Simon, menghadiri World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang. Ia menjadi satu–satunya wartawan musik tanah air yang diundang untuk melakukan liputan event musik tingkat dunia tersebut. Kepercayaan untuknya tak pernah surut. Berturut-turut, dua tahun sekali, ia berangkat melakukan liputan World Pop Song Festival di Tokyo, Jepang. 

Baca juga: Eddie van Halen Tutup Usia

Sebagai jurnalis musik, Bens Leo juga telah mewawancarai banyak musisi papan atas tanah air. Catatannya menjadi cover story Majalah AKTUIL. Ia juga dilibatkan sebagai juri dalam ajang pencarian bakat untuk musisi tanah air, seperti Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) dan Festival Lagu Rock Indonesia. Pendek kata, sangat mudah menemukan nama Bens Leo di event-event musik di tanah air. 

Pada tahun-tahun ke belakang, ia terus berkecimpung di bidang musik. Menjajal kemampuannya di bidang lain, sebagai produser. Ialah yang memproduseri album perdana Kahitna, 'Cerita Cinta' yang rilis pada 1993. Bens Leo juga sempat terlibat menangani bisnis media cetak. Tak jauh, seputar informasi musik, meski hanya bertahan selama tiga tahun. Tahun 2000-an ini Bens beberapa kali menjadi bagian tim juri event musik internasional, di antaranya di Kompetisi Lagu Asean di Singapura (2003) dan World Oriental Music Festival Sarajevo, Bosnia (2005). Namanya juga masuk dalam jajaran Tim Sosialisasi Anugrah Musik Indonesia (AMI), serta Penasehat dalam ajang SCTV Awards.

Komunitas Pecinta Musik Leo Kristi mengapresiasi Bens Leo secara istimewa. Dua sosok ini kebetulan lahir di tanggal yang sama, 8 Agustus. Bens pernah menulis artikel tentang Leo Kristi. Ia  jugalah yang membawa Leo Kristi rekaman album kedua Konser Rakyat, Nyanyian Malam, di Irama Tara pada 1977. Sebelumnya, album pertama Leo Kristi, Nyanyian Fajar, direkam oleh Majalah AKTUIL.  

Demikian banyak karyanya dan keterlibatannya dalam perkembangan musik di tanah air. Hari ini ia dikabarkan berpulang, setelah beberapa hari berjuang melawan COVID-19. Bens Leo meninggal dunia pada usia 69 tahun, meninggalkan seorang istri, Pauline Endang, dan seorang anak, Addo Gustaf Putra. 

Selamat jalan, Mas Bens Leo. Selamat beristirahat dalam keabadian.

Baca juga: Mengenang John Lennon Setelah 40 Tahun 

Tuesday, November 16, 2021

Knockin' on Heaven's Door, Pilih Bob Dylan atau Guns N' Roses?

Selagi November Rain berkumandang di seantero jagat pada bulan ini, lagu-lagu lain dari Guns N' Roses pun ikut terputar. Termasuk di antaranya Knockin' on Heaven's Door, karya lama Bob Dylan yang mereka suarakan kembali. 



Baca juga: Across the Universe, Sebuah Seruan Kepada Semesta 


Mama, take this badge off of me

I can't use it anymore

It's gettin' dark, too dark for me to see

I feel like I'm knockin' on heaven's door


Dylan menulis lagu ini untuk film bertajuk Pat Garrett And Billy The Kid. Liriknya sendiri menceritakan tentang protesnya terhadap kebijakan Pemerintah Amerika Serikat dalam perang di Vietnam. "Knockin' on heaven's door" mengacu kepada ketukan pintu surga dari para korban perang. Dylan mengharapkan surga untuk mereka. Ia menulis lagu itu juga sebagai apresiasi terhadap para prajurit yang memilih untuk jalan hidupnya sebagai pembela negara, meski ia sendiri tak menyepakati terjadinya perang. 

Baca juga: Like a Rolling Stone, Karya Dylan di Antara Kelelahannya

Dylan membawakan lagu ini dalam genre folk dengan sedikit nuansa blues. Ia sekaligus memainkan gitar dan dibantu pemain lain, Roger McGuinn (gitar), Jim Keltner (drum), Carl Fortina (harmonium), Gary Foster (flute), Brenda Patterson, Carol Hunter, Donna Weiss (backing vocals). 

Ada banyak versi yang kemudian direkam oleh penyanyi lain dan grup-grup musik dunia. Bob Marley membawakannya dalam versi reggae. Guns N’ Roses dalam versi heavy metal rock. Beberapa penyanyi menyanyikan dalam versi akustik, seperti Avril Lavigne, U2, dan Bonjovi. Tak terhitung penyanyi dan grup musik yang membawakan ini lagu dalam konser live mereka. 

Yang unik, Guns N’ Roses mereka ulang gambaran untuk lagu ini. Ia menyoroti kasus bunuh diri yang sedang marak. Knockin' on Heaven's Door direkam Guns N' Roses dalam album mereka, Use Your Illusion II, yang rilis pada 1991. Tahun berikutnya, mereka membawakan lagu ini dalam konser tribute Freddie Mercury, lead singer Queen yang meninggal dunia. Knockin' on Heaven's Door versi mereka dinikmati oleh 72.000 manusia yang memadati Wembley Stadium di London.

Baca juga: Kisah Muram di Balik Lagu I Don't Like Monday


Knockin' on Heaven's Door


Ooh, ooh

Ooh, ooh

Ooh, ooh


Mama, take this badge off of me

I can't use it anymore

It's gettin' dark, too dark to see

I feel I'm knockin' on heaven's door


Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door


Mama, put my guns in the ground

I can't shoot them anymore

That long black cloud is comin' down

I feel I'm knockin' on heaven's door


Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door

Knock, knock, knockin' on heaven's door


Ooh, ooh


Monday, November 1, 2021

November Rain, Lagu Wajib Bulan November

"So never mind the darkness, we still can find a way. Cause nothing last forever, even cold November Rain."

Memasuki November, ini lagu menjadi salah satu yang wajib putar. Yup, November Rain. Lagu milik Guns N' Roses (GNR) ini rilis pada 1991 bersama album kedua, Use Your Illusion I. November Rain dirilis sebagai single pada Juni tahun berikutnya, menyusul single pertamanya, Don't Cry dan kedua, Live and Let Die. Di YouTube, tayangan video official November Rain sudah ditonton lebih dari 17 juta kali, yang menjadikan lagu ini dinobatkan sebagai salah satu lagu 90-an dengan penonton terbanyak di YouTube.


Baca juga:
Try to Remember, Lagu Pengantar September

Dengan segala kesuksesannya tersebut, siapa sangka kalau sebelumnya lagu ini tak diperhitungkan. Karya keroyokan Saul Hudson, Izzy Stradlin, Duff McKagan, Darren A Reed, Matt Sorum, Axl Rose ini sempat ditolak personel GNR. Lagu ini sudah selesai dibuat pada 1986, setahun mereka merilis album pertama, Appetite for Destruction. Setelah diputuskan untuk masuk di album kedua, ternyata sambutan pasar sangat antusias. Durasinya yang panjang tak menyurutkan radio broadcast untuk menyiarkannya. November Rain memecahkan rekor menjadi lagu terpanjang yang pernah masuk tangga lagu Billboard. Prestasinya hingga di posisi ketiga Billboard Hot 100.

Baca juga: Fire and Rain, Sebuah Cerita Kehilangan


November Rain


When I look into your eyes

I can see a love restrained

But darlin' when I hold you

Don't you know I feel the same?


Nothin' lasts forever

And we both know hearts can change

And it's hard to hold a candle

In the cold November rainIf we could take the time to lay it on the line

I could rest my head just knowin' that you were mine

All mine

So if you want to love me then darlin' don't refrain

Or I'll just end up walkin' in the cold November rain

Do you need some time on your own?

Do you need some time all alone?

Ooh, everybody needs some time on their own

Ooh, don't you know you need some time all alone


I know it's hard to keep an open heart

When even friends seem out to harm you

But if you could heal a broken heart

Wouldn't time be out to charm you?

Oh, oh, oh


Sometimes I need some time on my own

Sometimes I need some time all alone

Ooh, everybody needs some time on their own

Ooh, don't you know you need some time all alone


And when your fears subside

And shadows still remain, oh yeah

I know that you can love me when there's no one left to blame

So never mind the darkness, we still can find a way

'Cause nothin' lasts forever, even cold November rain

Don't ya think that you need somebody?

Don't ya think that you need someone?

Everybody needs somebody

You're not the only one

You're not the only one


Don't ya think that you need somebody?

Don't ya think that you need someone?

Everybody needs somebody

You're not the only one

You're not the only one


Don't ya think that you need somebody?

Don't ya think that you need someone?

Everybody needs somebody

You're not the only one

You're not the only one


Don't ya think that you need somebody?

Don't ya think that you need someone?

Everybody needs somebody


Baca juga: Eddie van Halen Tutup Usia


Bagaimana dengan Anda? Apakah termasuk yang wajib putar November Rain pada setiap November? 

Wednesday, October 27, 2021

Oddie Agam, Sang Hits Maker Indonesia, Berpulang

Oddie Agam berpulang hari ini, setelah beberapa pekan lalu dikabarkan kondisinya membaik pasca melakukan cuci darah karena gangguan ginjalnya. Bagi generasi 80-90an yang meminati musik, sudah pasti hafal dengan sosok satu ini. Oddie Agam dengan karya-karya terbaiknya di tanah air, baik yang disuarakannya sendiri, terlebih lewat penyanyi lain. Yup, Oddie merupakan salah satu hits maker Indonesia.


Baca juga: Gitaris Burgerkill Meninggal Dunia

Ada puluhan lagu Oddie Agam yang berjaya di tanah air. Lagu-lagu yang sukses di panggung maupun terjual di pasaran. Dari suara Vina Panduwinata kita mengenal 'Wow', 'Surat Cinta', 'Bahasa Cinta', 'Logika', dan 'Tamu Istimewa'. Siapa pula yang tak kenal 'Antara Anyer dan Jakarta', lagu yang nge-hits lewat suara penyanyi negeri jiran, Sheila Majid, yang di kemudian hari juga dibawakan Oddie sendiri. Model yang juga menyanyi, Itang Yunaz, sukses dengan 'Aku Cinta Padamu'. Karya Oddie 'Puncak Asmara' juga melengkapi kumpulan lagu di album Utha Likumahua. Ada dua lagu sukses lewat suara Mus Mujiono, 'Tanda Tandanya' dan 'Arti Kehidupan'. 'Memory' dari Ruth Sahanaya tentu saja termasuk di dalamnya. Dan masih banyak yang lainnya. Pendek kata, nama Oddie Agam seolah menjadi jaminan kesuksesan sebuah lagu.

Baca juga: Eddie Van Halen Tutup Usia

Oddie sendiri juga merilis album solonya. Album perdananya, Aku, Kau & Dia, rilis pada 1983. Namanya belum banyak dikenal saat itu. Begitu pun saat ia merilis album kedua, Bellina, belum juga mengangkat namanya. Meski album tersebut mengutip nama Bellina, dari Meriam Bellina yang tengah berjaya karena memenangkan Piala Citra di film Cinta di Balik Noda. Saat merilis album ketiga, Gadis Sentimentil, pada 1986, namanya sudah banyak dikenal sebagai pencipta lagu. Pada 1990, Oddie menggandeng empat penyanyi perempuan yang tengah berjaya masa itu, Vina Panduwinata, Anggun, Malyda, dan Asti Asmodiwati. Album bertajuk namanya. Saat namanya mulai meredup, Oddie mempersembahkan karya-karyanya dalam album kelimanya, album yang merupakan kumpulan karya terbaiknya selama satu dekade. Ia menamai albumnya, The Best of 84-94. 

Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Nama aslinya, ada yang tahu? Imran Madjid! Laki-laki kelahiran 19 Maret 1953 ini mengawali kariernya di kancah musik lewat karyanya di film bertajuk Istana Kecantikan. Oddie kita kenal juga sebagai suami dari penyanyi Chintami Atmanegara. Mereka menikah pada 1988 dan bertahan selama 4 tahun dengan seorang anak. Pernikahannya yang kedua ia lakukan pada tahun 2014, dengan perempuan bernama Almafilia.

Selamat jalan, Oddie Agam. Terima kasih untuk karya-karyamu.


Monday, October 11, 2021

Mendhung Tanpa Udan Karya Viral Kukuh Prasetya Kudamai

Mendhung Tanpa Udan! Beberapa waktu terakhir, lagu ini berkumandang dari berbagai tempat, lewat banyak penyanyi. Bahkan penyanyi senior Iwan Fals pun ikut meramaikannya dengan versinya. Saking banyaknya versi ini lagu, banyak yang lantas tergagap bertanya: ini lagu siapa sih? Yup, ini lagu karya Kukuh Prasetya Kudamai yang dikenal pertama kali lewat versi Ndarboy Genk.




Baca juga: Gitaris Burgerkill Meninggal

“Awak dhewe tau duwe bayangan, besok yen wis wayah omah-omah.. Aku maca koran sarungan, kowe blanja dhasteran. Nanging saiki wes dadi kenangan, aku karo kowe wis pisahan, aku kiri kowe kanan wis beda dalan…. “ 

Di atas adalah penggalan Mendhung Tanpo Udan. Lirik yang sederhana dan mudah diingat. Ini lagu viral di Tiktok dan reel Instagram. Tak kurang Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pun menggunakannya di reel Instagramnya.

Jadi, siapa sih Kukuh ini?

Nama lengkapnya Muhammad Kukuh Prasetya. Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini mengawali karir bermusiknya dengan bergabung di grup musik Sri Rejeki pada 2014. Ia pernah pula membangun band sendiri, band hardcore di Madiun. Kukuh juga menapakkan jejaknya di dunia peran, terlibat di sejumlah sinetron. Mendhung Tanpa Udan sendiri ia tulis saat ia baru diberhentikan dari keikutsertaannya di salah satu sinetron TV Nasional, pada awal pandemi tahun lalu.

Baca juga: Pelangi Cinta dalam Versi Baru

Butuh  waktu tujuh bulanan bagi Kukuh menuntaskan Mendhung Tanpa Udan. Produksinya sendiri dibantu pencipta lagu, Kris Sagara di Jakarta, dan peniup terompet, Anas di Yogyakarta. Akhirnya berhasil rilis pada 12 Februari 2021.

Mendhung Tanpa Udan

Kisah iki

Kesimpen rapi

Neng jero sepi

Udan tanpa mendhung

Gawe ati bingung

Ra isa tak bendung

Banyu tiba gawa teka rasa

Rasa seng wes tau tak kon lunga

Aku wong sing ora gampang sayang

Merga aku wedi krasa peteng neng gon padhang

Sakwise udan terang

Abot ati iki

Arep ninggalke perasaan

Awak dhewe tau duwe bayangan

Besok yen wis wayah omah-omahan

Aku maca koran sarungan

Kowe blanja dhasteran

Ee... Tapi...

Udan tanpa mendhung

Gawe ati bingung

Ra isa tak bendung

Banyu tiba gawa teka rasa

Rasa sing wis tau tak kon lunga

Aku wong sing ora gampang sayang

Merga aku wedi krasa peteng neng gon padhang

Sakwise udan terang

Yen pancen kowe jodhoku

Gusti, bapak, lan ibu

Kula nyuwun pengestu

Aku wong seng ora gampang sayang

Merga aku wedi krasa peteng neng gon padhang

Sakwise udan terang

Abot ati iki

Arep ninggalke perasaan

Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Catatan:

Dilakukan perubahan ejaan dalam penulisan lirik lagu, semata memenuhi kaidah bahasa Jawa baku, tanpa konfirmasi ke penulis lirik.

Friday, September 3, 2021

Gitaris Band Cadas Bandung, Burgerkill, Eben, Berpulang

Penggemar musik cadas tanah air, terutama warga Bandung dibuat kaget oleh kabar kepergian gitaris sekaligus pendiri Burgerkill, Eben. Kepergian mendadak sosok bernama asli Aris Tanto pada Jumat (3/9/2021) dikabarkan karena serangan jantung.



Baca juga: Yopie Latul dan Lagu-lagunya yang Berjaya

Kehadiran Burgerkill di pertengahan tahun 90-an menyentak dunia musik tanah air. Musik super keras yang mereka usung menjadi fenomena tersendiri. Bagi warga Bandung, meski bukan penggemar musik cadas, mengenal nama ini. Terlebih grup ini lahir di kawasan tumbuh dan berkembangnya death metal/grindcore Bandung. 

Ebenlah yang mengawali. Pada Mei 1995, Eben hijrah dari Jakarta ke Bandung untuk melanjutkan sekolahnya. Di sekolah, Eben bertemu dengan Ivan, Kimung, dan Dadan sebagai line-up pertamanya. Sebagai band baru, mereka bermain sebagai band pembuka di event-event panggung musik metal. Hingga kemudian Eben mulai buka koneksi dengan komunitas di Jakarta lantas memberinya banyak job manggung. Antusiasme penikmat musik underground terhadap Burgerkill mulai terpupuk. 

Baca juga: Eddie van Halen Tutup Usia

Di satu sisi mereka sukses mendapatkan publisitas, di sisi lain personil beberapa kali mengalami perubahan. Hingga line-up solid yang kita kenal kini.

Kesempatan bagus datang pada awal 1997. Tawaran untuk bergabung dalam album kompilasi. Sejumlah nama yang sudah cukup dikenal oleh penikmat hardcore Bandung antara lain Full Of Hate, Puppen, dan Cherry Bombshell. Dalam album yang dijuduli  'Masaindahbangetsekalipisan' tersebut,  lagu milik Burgerkill, Revolt! menjadi nomor pembuka. Album ini laris manis, terjual 1000 keping dalam waktu singkat.

Jelang pergantian tahun, anak-anak muda ini kembali membuat gebrakan dengan menghadirkan album kompilasi baru, 'Breathless'. Burgerkill menyumbangkan singlenya 'Offered Sucks'. Melengkapi prestasi, awal 1998, Burgerkill merilis single Blank Proudness. Lagu ini tergabung dalam album kompilasi band-band Grindcore Ujungberung bertajuk 'Independent Rebel'. Single rilisan mereka mendapatkan sambutan positif publick musik keras, bukan hanya di tanah air namun juga di negeri jiran. Tawaran-tawaran rekaman pun terus berdatangan. Hal tak menyenangkan datang, tak terhindarkan. Toto memutuskan mundur, yang lalu disusul berpulangnya sang vokalis, Ivan.  

Baca juga: Mark Chapman dan Peristiwa Kematian John Lennon

Demikianlah, Burgerkill makin berkibar dan bertahan hingga tahun-tahun terakhir. Selain sukses dalam rekaman, Burgerkill  mengantongi sejumlah penghargaan. BUkan hanya di lingkup underground, namun juga mainstream achievement misalnya saat mereka menjadi nominator Band Independent Terbaik ala majalah NewsMusik pada tahun 2000.

Sekali lagi, selamat jalan, Eben.. Burgerkill semoga terus berkarya.