Wednesday, December 23, 2020

Across The Universe, Sebuah Seruan Pada Semesta

Across The Universe muncul dan dirilis pertama kali bersama album kompilasi No One's Gonna Change Our World pada 1969. Album ini dirancang sebagai charity dalam kampanye the World Wildlife Fund (WWF). Saat itu WWF tengah menggugat World Wrestling Federation untuk berhenti memakai akronim yang sama. Ini lagu ditulis oleh John Lennon dengan kredit Lennon-McCartney. Pada versi ini dilengkapi dengan suara kicauan burung yang menandai kentalnya peristiwa alam. Berbeda dengan versi yang rilis bersama album Let It Be.


Baca juga: The Beatles, Maharishi, dan Sexy Sadie

Satu kalimat khas yang kita temukan pada lagu ini adalah Jai Guru Deva Om. Kalimat ini serupa mantra yang mengajak pendengarnya untuk berhening menuju ke kesadaran yang lebih tinggi. Kalimat dari Bahasa Sanskerta ini bermakna: saya berterima kasih kepada Guru Dev. Kalimat-kalimat serupa akrab dengan The Beatles saat mereka berkunjung ke India. Bahkan saat mengunjungi Maharishi di Rishikesh, John sempat membeli gelang kuningan bertuliskan Jai Guru Dev di bagian atasnya. 

Saat melakukan rekaman Across The Universe, sempat terjadi ketegangan antara John dan Paul. Namun akhirnya proses rekaman yang berlangsung sepanjang Februari 1968 tersebut tuntas, dan hasilnya seperti yang kita nikmati kini. Pada 1975, David Bowie membawakan lagu ini dengan Lennon pada gitar. Versi Bowie rilis Bersama album Young Americans.

Baca juga: Kalender The Beatles 1964


Across The Universe

(Let It Be version)


Words are flowing out like endless rain into a paper cup

They slither while they pass, they slip away across the universe

Pools of sorrow waves of joy are drifting through my opened mind

Possessing and caressing me


Jai guru deva om

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world


Images of broken light which dance before me like a million eyes

They call me on and on across the universe

Thoughts meander like a restless wind

Inside a letter box they

Tumble blindly as they make their way

Across the universe


Jai guru deva om

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world


Sounds of laughter shades of life are ringing

Through my open ears inciting and inviting me

Limitless undying love which shines around me like a million suns

And calls me on and on across the universe


Jai guru deva om

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world

Nothing's gonna change my world


Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva

Jai guru deva...

Baca juga: The Beatles di New Zealand

Tuesday, December 22, 2020

Fire and Rain, Sebuah Cerita Kehilangan

Lewat suara siapa Anda mendengarkan Fire and Rain? Babyface? Dido? Bagi yang pernah melewati dekade 70-an atau tahun-tahun tak terlalu jauh setelahnya, mungkin mengenali lagu ini suara John Denver atau Willie Nelson atau tentu saja sang pemilik lagu, James Taylor. Carole King, yang sebelumnya telah bekerja sama dengan Taylor pada lagu You’ve Got A Friend, terlibat dalam permainan piano.



Baca juga: Eddie Van Halen Berpulang

Yup, Fire and Rain dirilis pertama kali pada Februari 1970 lewat suara James Taylor. Ia sendiri juga yang menulis liriknya. Taylor bercerita tentang kawan masa kecilnya, Suzanne Schnerr yang mengakhiri hidupnya, dan perjuangannya membebaskan diri dari ketergantungan obat. Peristiwa kematian Schnerr terjadi saat ia berada di London, Inggris, melakukan rekaman di Apple Records untuk album pertamanya. Saat itu ia juga tengah mengalami depresi karena kegagalan dengan band yang dibentuknya. The Flying Machine. Taylor berhasil menuntaskan ini lagu saat sedang melakukan rehabilitasi untuk ketergantungannya. 

Baca juga: Somewhere Over The Rainbow, Lagu Abadi

Fire and Rain rilis sebagai single untuk album keduanya, Sweet Baby James, pada Februari 1970. Tak lama setelah rilis, berhasil menjadi runner up di tangga lagu Kanada, dan berada di posisi tiga Billboard Hot 100. 


Fire and Rain


Just yesterday morning they let me know you were gone

Susanne the plans they made put an end to you

I walked out this morning and I wrote down this song

I just can't remember who to send it to

I've seen fire and I've seen rain

I've seen sunny days that I thought would never end

I've seen lonely times when I could not find a friend

But I always thought that I'd see you again

Won't you look down upon me, jesus

You've got to help me make a stand

You've just got to see me through another day

My body's aching and my time is at hand

And I won't make it any other way

Oh, I've seen fire and I've seen rain

I've seen sunny days that I thought would never end

I've seen lonely times when I could not find a friend

But I always thought that I'd see you again

Been walking my mind to an easy time my back turned towards the sun

Lord knows when the cold wind blows it'll turn your head around

Well, there's hours of time on the telephone line to talk about things

To come

Sweet dreams and flying machines in pieces on the ground

Oh, I've seen fire and I've seen rain

I've seen sunny days that I thought would never end

I've seen lonely times when I could not find a friend

But I always thought that I'd see you, baby, one more time again, now

Thought I'd see you one more time again

There's just a few things coming my way this time around, now

Thought I'd see you, thought I'd see you fire and rain, now

Baca juga: Mark Chapman dan Peristiwa Kematian John Lennon

Wednesday, December 9, 2020

Mengenang Lennon, Setelah 40 Tahun Kepergiannya

Tanggal 8 Desember 2020, beatlemania di berbagai belahan dunia memperingati peristiwa kematian John Lennon dengan caranya masing-masing. Sudah 40 tahun berselang, namun para penggemar tak pernah lupa. Ingatan akan peristiwa tertembaknya Lennon yang berakhir dengan kematiannya, tak akan lekang oleh waktu.

Sebuah catatan menarik ditulis oleh sebuah akun fesbuk dengan nama Love from George. Menarik, karena ternyata angka 40 ini punya makna khusus. John meninggal di usia 40 tahun.

Baca juga: Peringatan Kematian John Lennon 2019

 

Paul McCartney, melalui akunnya juga berbagi kenangan tentang kawan seperjuangannya tersebut. Ia mengunggah foto karya istrinya, saat ia duduk berdampingan dengan Lennon. 


Baca juga: Rekaman Decca, Awal Mula The Beatles

Di akun twitternya, Ringo Starr juga membagikan kenangannya terhadap Lennon. Seperti Paul, ia pun mengunggah fotonya saat berdua dengan Lennon. 

Penyanyi Cat Stevens atau Yusuf Islam juga menunjukkan apresisasinya. Ia menyebut Lennon sebagai perancang perdamaian di masa depan.


Baca juga: Menunggu Film Dokumenter The Beatles?

Akun musik In Music We Trust menampilkan foto Ozzy Osbourne yang sedang meletakkan bunga di monumen Strawberry Field di Central Park.


Seperti kita tahu, Lennon meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit, setelah ditembak Mark David Chapman pada 8 Desember 1980. Chapman sendiri hingga kini masih mendekam di penjara. Upaya evaluasi hukuman terhadap Chapman dilakukan empat tahun sekali. Namun hingga tahun ini, Yoko tak memberikan persetujuannya atas pembebasan Chapman dengan pertimbangan kejadian serupa dapat berulang.

Baca juga: Mark Chapman dan Persitiwa Kematian John Lennon

Yoko sendiri tahun ini kembali menggaungkan kampanye tentang pembatasan penggunaan senjata. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kembali ia unggah foto kacamata yang dipakai Lennon saat penembakan terjadi. Terlihat bercak darah pada bagian kiri kacamata.

Ia juga mengungkapkan kekangenan mereka, dia sendiri bersama Julian dan Sean terhadap sosok Lennon.

Baca juga: John Lennon, Yoko Ono, dan Pernikahan Mereka

 

 

Wednesday, December 2, 2020

Revolution 9, Lagu Absurd di White Album

Revolution 9, lagu apakah sesungguhnya? Atau ini tak bisa disebut lagu? Yang pasti, judul yang dapat kita temukan di White Album ini tak pernah dimunculkan dalam playlist siarannya penulis. Terlalu absurd, yang tak dapat diterima oleh semua pendengar yang notabene beragam. Bahkan konon sebetulnya ini lagu tak disetujui semua personel untuk dimasukkan dalam album.

Jadi, apa sesungguhnya Revolution 9

Baca juga: Menunggu Film Dokumenter The Beatles

Revolution 9 adalah kumpulan suara acak. Suara manusia yang monoton menyebut 'number nine', obrolan yang tak jelas, dan aneka musik. Berangkat dari lagu Revolution, John Lennon mengimbuhi dengan potongan-potongan suara, pidato, obrolan, pertunjukan musik, dengan coda yang tak terpakai. Semuanya dimanipulasi dengan distorsi, echo, aneka panning dan fading. Pertunjukan musik yang diambil, beberapa di antaranya adalah dari pertunjukan musik klasik seperti O Clap Your Hand karya Vaughan Williams Motet. Lalu ada potongan cord penghujung Symphony No 7, dan komposisi Beethoven Choral Fantasy, The Streets of Cairo. Ada pula komposisi Schumann Studi Symphonic yang diputar terbalik. 

Baca juga: The Beatles dan Odeon Cinema

Potongan lagu The Beatles juga dijadikan bagian. Ada komposisi biola dari lagu A Day in the Life, ditimbal suara George Martin: "Geoff, put the red light on”. Beberapa lagu unik juga mendapatkan porsi, seperti lagu dari Arab, Awwal Hamsa. Rekaman nyanyian sepak bola Amerika, Hold that line! Block that kick! juga tak luput. Tambahan lainnya, potongan pertunjukan opera entah milik siapa, dan musik-musik yang diputar terbalik. 



Banyak yang berspekulasi tentang lagu ini. Tentang chaos dan kekerasan, hal-hal yang melekat pada revolusi. Juga dikaitkan dengan rumor kematian Paul McCartney. 

Baca juga: Album With The Beatles


Friday, November 20, 2020

Pelangi Cinta Dalam Versi Baru, Kolaborasi Diskoria dan Afifah Yusuf

Bagi yang pernah melewati dekade 80-an, pasti setidaknya pernah dengar ini lagu. Pelangi Cinta, karya A Riyanto yang rilis pertama kali pada 1981 oleh Jamal Mirdad. Lagu ini lebih populer lewat suara Hetty Koes Endang. Nah, ini lagu baru-baru ini dibuat versi barunya oleh Diskoria.

Baca juga: Symphony Yang Indah Dalm Suara Once

Diskoria sendiri adalah kolaborasi DJ Merdi Simanjuntak dan Fadli Aat. Pada lagu yang mereka rilis pada pertengahan Oktober lalu ini, Diskoria menggandeng Afifah Yusuf yang tak lain adalah putri Hetty Koes Endang. Hetty bahkan hadir dalam proses rekamannya.

Baca juga: Jemu dan Album Salute To KoesPlus

Dalam pernyataannya kepada media, Afifah Yusuf mengatakan, Pelangi Cinta memberikan sentuhan emotional. "Lagu ini pernah dinyanyikan oleh sosok yang sangat inspiratif dalam hidup saya. Secara melodi dan keseluruhan konsep lagu ini sangat sesuai sebagai lagu perkenalan dari projek kolaborasi bersama Diskoria." (Antara News). 

Pada proses produksinya ini, Diskoria dibantu dua musisi yang pernah tergabung dalam grup elektronik, Animalism, Imam Buana Luthfi dan Pandji Dharma. Penggarapan video musik dipercayakan kepada Fariz RM. 


Baca juga: Melati Suci, Karya Indah Guruh


Pelangi Cinta


Dua mata bertemu dan

Dua hati mulai bersatu saat itu

Tanpa sepatah kata namun

Serasa cinta asmara yang terpadu


Kita hadir di dunia untuk berjumpa

Kita hadir di dunia untuk bercinta

Agaknya


Sejuta kata mesra berlimpah

Bagai air telaga kata cinta

Bulan dan bintang-bintang berkerling

Dengan sinar yang terang bagi kita


Hari yang panjang tak cukup untuk bercinta

Rumah yang lapang tak cukup untuk berdua

Agaknya


Dulu aku yang merana

Kini aku yang bahagia

Sekuntum bunga kupetik-petik

Kusumpili telingamu


Kita terlena bahagia

Lupa kutukan dewata

Kita nikmati bersama-sama

Buah manis dari surga


Sejuta kata mesra berlimpah

Bagai air telaga kata cinta

Bulan dan bintang-bintang berkerlip

Dengan sinar yang terang bagi kita


Hari yang panjang tak cukup untuk bercinta

Rumah yang lapang tak cukup untuk berdua

Agaknya


Dulu aku yang merana

Kini aku yang bahagia

Sekuntum bunga kupetik-petik

Kusumpili telingamu


Kita terlena bahagia

Lupa kutukan dewata

Kita nikmati bersama-sama

Buah manis dari surga


Dulu aku yang merana

Kini aku yang bahagia

Sekuntum bunga kupetik-petik

Kusumpili telingamu


Kita nikmati bersama-sama

Buah manis dari surga

Sekuntum bunga kupetik-petik

Kusumpili telingamu

Wednesday, October 21, 2020

The Beatles dan Odeon Cinema

Pada 21 Oktober 1964 tercatat The Beatles manggung di Odeon Cinema, Glasgow, Skotlandia, sebagai bagian dari British tour. The Fab Four tampil pada dua konser dalam semalam, pukul 18.40 dan 21.00. Mereka dibayar £850 untuk sekali tampil. Seperti pada penampilan-penampilan mereka sebelumnya dalam tour tersebut, The Beatles performed membawakan Twist And Shout, Money (That’s What I Want), Can’t Buy Me Love, Things We Said Today, I’m Happy Just To Dance With You, I Should Have Known Better, If I Fell, I Wanna Be Your Man, A Hard Day’s Night, dan Long Tall Sally.

Skotlandia menjadi salah satu tujuan kunjungan The Beatles dalam rangkaian British tour di tahun tersebut. Dan ini menjadi kali ketiga mereka mengunjungi Odeon Cinema.

Nah, mari kita berkenalan dengan Odeon Cinema.

Odeon Cinema adalah sebuah gedung yang terkenal di Glasgow, Skotlandia. Persisnya, pada 1934 dibangun dengan nama the Glasgow Paramount Theatre, yang dengan segera menjadi salah satu jaringan bisnis sinema Amerika di Inggris. Arsitekt yang merancang gedung ini adalah Frank T Verity dan Samuel Beverly, yang kemudian banyak membuat desain Paramount Theatre di Inggris. Bangunan sendiri memakai komponen granit putih, memiliki lima jendela besar. Ada garis terbuat dari lampu neon mengelilingi gedung yang dinyalakan pada malam hari. Terdapat serambi dan fasilitas seperti cafe dan restoran. Sebuah bangunan yang besar, menempati setengah blok kota.  



Auditorium sendiri memiliki 2.784 tempat dalam lingkaran. Panggung luas dengan area udara yang juga bebas. Sebanyak lima belas ruang ganti uga tersedia di bagian samping dan di bawah panggung. 

Pada 1939, Paramount Theatre berganti pemilik. Bukan hanya Glasgow, namun semua Paramount di Inggris, dijual ke jaringan Odeon Theatres Ltd. milik Oscar Deutsch. Namanya menjadi Odeon. Aneka kesuksesan diraih gedung ini pada masa tersebut hingga 1970. Selain film, pertunjukan musik menambah popularitas Oden. The Beatles, The Rolling Stones, Roy Orbison, dan nama-nama terkenal lainnya. Duke Ellington dan orkestranya tampil pada konser akhir musim panas 1969, yang sekaligus menjadi masa penghujung Odeon. Gedung ini ditutup pada 13 September 1969, lalu direnovasi menjadi bioskop tiga layar.


Baca juga kisah The Beatles lainnya

Apa kabarnya kini? Setelah sempat berjaya pada dekade 80-an, Odeon menjual bangunan itu kepada pengembang pada Maret 2003. Bioskopnya ditutup tiga tahun kemudian, dan berganti dengan toko, restoran, dan klub malam. Pada Maret 2013 bangunan berganti menjadi hotel dan blok perkantoran. Bagian depan bekas Odeon dan ruang serambi masih dimanfaatkan sebagai bagian hotel. 



sumber: cinematreasures dot org dan paul mccartney project web

Monday, October 12, 2020

Eddie Van Halen Tutup Usia

Kabar duka datang dari blantika musik dunia. Eddie Van Halen berpulang pada Rabu, 7 Oktober 2020 lalu. Eddie telah lama menjadi cancer survivor. Ia didiagnosis kanker lidah pada tahun 2000. Dua tahun kemudian sempat dinyatakan bersih pasca operasi pemotongan sepertiga bagian lidahnya. Tapi di beberapa waktu terakhir ternyata sel kanker sudah menyebar luas hingga ke otaknya.


Putra Eddie, Wolf menulis di akun twitternya @WolfVanHalen: “Saya tidak percaya harus menulis ini. Pagi ini ayah saya, Edward Lodewijk Van Halen, telah kalah dalam perjuangan panjang dan sulit melawan kanker. Dia ayah terbaik bagi saya. Setiap waktu saya bersamanya di atas dan di luar panggung adalah hadiah. Saya sangat sedih dan rasanya tidak mungkin pulih dari kehilangan ini. Saya menyayangimu Ayah." 

Nama lengkapnya Edward Lodewijk Van Halen. Ia lahir di Amsterdam pada 26 Januari 1955. Ayahnya, Jan Van Halen adalah pemain saksofon dan klarinet asal Amsterdam yang menikah dengan perempuan blasteran Indonesia-Belanda kelahiran Rangkasbitung, Eugenia Van Beers. Jan berjumpa dengan Eugenia dalam kunjungannya ke Indonesia. Mereka baru meninggalkan Jakarta pada 1953, dua tahun sebelum kelahiran Eddie. 

                                            Eddie Van Halen muda

Jan mengalami masa sulit. Bermodal 75 guilders (mata uang Belanda saat itu), ia nekat memboyong keluarganya ke Pantai Barat AS, persisnya di Pasadena, California pada 1962. Selain bermain musik, Jan juga bekerja sebagai cleaning service. Sedangkan sang ibu, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Mereka pernah tinggal dalam sebuah rumah bersama tiga keluarga lainnya. Meski demikian Jan berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, terutama dalam hal bermusik. Bersama kakaknya, Alex, Eddie belajar piano klasik saat usia SMA. Saat The Beatles dan The Rolling Stones berjaya, mereka mulai mengenal musik pop-rock. Hingga mereka berdua memutuskan membentuk Van Halen pada 1974. 

                                          Eddie dan Alex Van Halen

Permainan gitar Eddie menjadi kekhasan tersendiri dari grup yang mulai dikenal luas pada akhir 70-an. Eddie dikenal dengan teknik gitar tapping dua tangannya. Anggota awal Van Halen adalah dua bersaudara Eddie dan Alex, bersama Michael Anthony dan David Lee Roth. Pada akhir 70-an itu mereka mulai konsisten bermain di bar, klub, dan hotel. Hingga kemudian Warner Bros memberi kontrak pertama mereka. Debut album mereka dengan single Running With the Devil meledak di pasaran dan berjaya di tangga lagu banyak negara. Tahun-tahun berikutnya Eddie bersama Van Halen menjadi grup band yang memiliki banyak pemuja. Lagu-lagu mereka seperti Jump, Why Can't This Be Love, Hot For Teacher, So This Is Love menjadi lagu wajib.

Selamat jalan, Eddie Van Halen..terimakasih untuk karya-karyamu.


referensi: kompas, wiki, today online

Wednesday, September 16, 2020

Menunggu Film Dokumenter The Beatles 'Get Back'?

Pada Maret lalu beredar kabar Walt Disney Studio bakal mendistribusikan film dokumenter kiprah The Beatles pada bulan September tahun ini. Nah, apa kabarnya? Sudah bisa ditebak sih ya, masa pandemi ini menjadikan banyak hal tertunda. Termasuk rencana rilis film ini. Namun dari laman IMDB tersebutkan film yang diberi tajuk Get Back tersebut bakal rilis pada 27 Agustus 2021.

Film Get Back akan memaparkan proses kreatif The Beatles. Di antaranya adalah tayangan  55 jam proses rekaman yang selama ini belum pernah dipublikasikan. Selain itu juga 140 jam proses rekaman album 'Let It Be', yang menjadi album pamitannya The Beatles. Film yang digarap oleh Peter Jackson ini juga akan menampilkan perkawanan personel The Beatles yang dipenuhi dengan becandaan dan kekonyolan mereka. Jackson juga berperan sebagai produser bersama Clare Olssen dan Jonathan Clyde, serta Ken Kamins dan Korps Aople Jefd Jones sebagai produser eksekutif. Film dokumenter ini juga mendapat dukungan Yoko Ono Lennon dan Olivia Harrison.

Dua personel The Beatles yang tersisa, Paul McCartney dan Ringo Starr menyampaikan apresiasi positif mereka terhadap rencana film dokumenter ini. 

"Saya sangat senang Peter telah menggali arsip kami untuk membuat film yang menunjukkan yang sebenarnya tentang rekaman The Beatles. Persahabatan dan cinta di antara kami datang dan mengingatkan saya betapa indahnya waktu yang kami miliki," ujar Paul. 

Sementara itu Ringo mengakui kehebatan Peter Jackson. 

"Peter hebat dan sangat keren melihat semua rekaman ini. Ada berjam-jam di antara kami hanya tertawa dan bermain musik, sama sekali tidak seperti versi yang di luaran. Ada banyak kegembiraan dan saya pikir Peter akan menunjukkan itu. Saya pikir versi ini akan jauh lebih damai dan penuh kasih, seperti kita sebenarnya," tutur Ringo.

Simak aneka cerita tentang The Beatles dan artikel musik lainnya hanya di pecandumusik.com

Walt Disney Studios telah memegang hak untuk mendistribusikan film dokumenter empat pemuda asal Liverpool, Inggris, tersebut, bekerjasama dengan Apple Corps Ltd serta WingNut Films Productions Ltd. Bos Walt Disney Studios, Robert A Iger kepada media mengakui kalau ia adalah penggemar berat The Beatles. Di luar itu, ia menyebutkan, The Beatles telah memberikan dampak besar bagi perkembangan musik dunia. 

Kalau selama ini masa-masa penggarapan album Let It Be atau Get Back selalu digambarkan muram, murung, depresif karena perselisihan di antara mereka, konon film ini memberikan gambaran yang sebaliknya. Sebuah perspektif baru. Penasaran? Mari kita tunggu..



referensi: hai, imdb, wiki

Monday, September 14, 2020

Yopie Latul dan Lagu-lagunya Yang Berjaya

Pekan lalu kita mendapatkan kabar, berpulangnya salah satu penyanyi tanah air. Ya, penyanyi senior Yopie Latul meninggal dunia pada Rabu (9/9/2020) di Cibinong, Bogor, saat dalam perawatan akibat virus corona atau Covid-19.

Yopie Latul lahir di Ambon, Maluku, pada 7 September 1955. Ia mengawali karir bermusik sebagai penyanyi jazz dengan albumnya Ambon Jazz Rock yang sukses. Berikutnya ia berganti aliran. Nyemplung ke dunia musik pop. Tak tanggung-tanggung, langsung berjaya saat membawakan 'Ayun Langkahmu', karya Elfa Secioria dan Wieke Gur pada Festival Lagu Populer Indonesia 1986. 


Setahun berikutnya ia kembali berkibar di panggung yang sama lewat karya Guruh Soekarnoputra. 'Kembalikan Baliku' yang dibawakannya bersama paduan suara Swara Mahardhika juga bertarung di ajang internasional. Lewat lagu ini, Yopie menerima Kawakami Awards dari ajang World Pop Song Festival di Budokan, Tokyo.


Baca catatan lagu-lagu Indonesia lainnya di sini

Yopie sempat sukses dengan Kelompok 7 Bintang, bersama penyanyi-penyanyi tanah air, yang lagunya masuk dalam berbagai album kompilasi, dan album Oh Susy Sayang. Setelahnya, ia kembali pindah aliran. Pada 1991 ia merilis album Hey Gadis dalam irama reggae. Dua tahun kemudian ia malah nyemplung ke dunia dangdut. Albumnya, Simalakama II dalam musik dangdut dengan nuansa Sumatra Selatan, terhitung sukses dan menjadikannya masuk dalam jajaran penyanyi dangdut tanah air. Lagu ini sempat dipopulerkan kembali Rama Aiphama dan mencatat sukses. 

Beberapa album lain sempat dirilis hingga tahun 2000 melahirkan album dengan lagunya yang menjadi superhit, Poco-poco. Lagu ini menjadikan senam Poco-Poco mewabah di tanah air dan bertahan hingga kini. Berkat lagu ini, Yopie berhasil menyabet penghargaan Penyanyi Disco/House Music/Rap/Dance Music Terbaik pada ajang penghargaan Anugerah Musik Indonesia 2001. 

Rest in peace, Yopie Latul...

Ikuti aneka cerita tentang lagu-lagu tanah air dan dunia hanya di pecandumusik.com


Monday, August 24, 2020

Mark Chapman dan Peristiwa Kematian John Lennon

Hari ini, 24 Agustus, mundur ke tahun 1981, Mark David Chapman dijatuhi hukuman 20 tahun penjara hingga seumur hidup atas tindakannya melakukan pembunuhan personel The Beatles, John Lennon.


Siapakah Chapman ini? 

Besar di Georgia, ia menjadi fans The Beatles sejak band asal Liverpool, Inggris ini mendunia. Bahkan membuatnya terobsesi bisa bermain musik.  Untuk itu ia belajar gitar. Namun sejak keyakinannya pindah haluan, yakni Kristen fundamentalis, pandangan-pandangannya pun berubah. Ia meyakini The Beatles memberikan pengaruh buruk, utamanya John Lennon, atas pandangannya terhadap agama dan negara. Ketika Lennon meluncurkan Imagine pada 1971, Chapman memparodikannya dengan "Imagine John Lennon dead."

Kehidupan pribadi Chapman suram. Ia pernah berkelana ke kota-kota dunia seperti Tokyo, Bangkok, Singapura, Hong Kong, Seoul, Delhi, London, Jenewa, Paris, Dublin, dan Israel. Ia menikah dengan dengan perempuan Jepang, namun gagal. Pekerjaannya pun tak sukses.

Pada 1980, John Lennon meluncurkan album barunya, Double Fantasy. Akhirnya Lennon ‘kembali’ setelah sekian tahun vakum. Dari publikasinya, Chapman mencatat alamat tinggal Lennon bersama Yoko Ono di New York City. Chapman yang frustasi dengan hidupnya yang gagal, sempat terpikir untuk melakukan bunuh diri. Namun pilihan terakhirnya kemudian adalah mendatangi John Lennon dan menembaknya. 8 Desember 1980. 

Awal Desember tahun itu, cuaca sedang hangat. John dan Yoko punya janji ke studio rekaman jam 5 sore. Chapman mencegat John dan Yoko Ono saat mereka beranjak meninggalkan apartemen, untuk minta tanda tangan di sampul album rekaman Double Fantasy. Pertemuan ini sempat terekam kamera fotografer. Setelah itu ia membiarkan John dan Yoko pergi. Tapi ia menunggu mereka kembali pulang. Usai agenda di studio rekaman, John dan Yoko pulang dengan berjalan kaki. Mereka pulang lebih cepat, berharap menemani anak mereka, Sean, makan malam di rumah. Saat Lennon akan memasuki gedung apartemen, Chapman mencabut pistol, memanggil Lennon, lalu menghujaninya dengan beberapa tembakan. Dua tembakan mengenai bagian kiri punggung, dua peluru lain menembus bahu kirinya. 


Pasca penembakan, John berusaha berjalan memasuki gedung. Ia masih bisa berseru kepada resepsionis kalau ia ditembak. Petugas apartemen, Jay Hastings, memberikan bantuan dengan  membalut luka John dan menggunakan jaketnya untuk menutupi tubuh John.  Segera, John dibawa ambulan ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, John menghembuskan nafas terakhir. Terlalu banyak darah yang keluar.

Kabar kematian John   diberitakan pertama kali oleh ABC. Seorang produser stasiun televisi tersebut sedang dirawat di rumah sakit John menuju. Peristiwa kematian ini kemudian menjadi  ‘breaking news’ di tengah tayangan langsung pertandingan sepak bola pada malam tersebut.


Jasad John dikremasi dua hari setelah kematiannya, di taman pemakaman Ferncliff, Hartsdale, New York. Abu jenazah disimpan oleh Yoko. Yoko sendiri tak menggelar acara pemakaman. Ia mengundang para fans yang berkumpul di sekitar apartemen untuk hadir di Central Park pada hari Minggu. Pada waktu yang ditentukan, lebih dari 200 orang mendatangi Central Park. Mereka mengheningkan cipta dan menyanyikan lagu-lagu John. Radio siaran juga ikut berpartisipasi untuk mengenang John Lennon. Selama 10 menit mereka menghentikan siaran. 

Lalu apa kabar Chapman?


Sejak divonis penjara pada 1981 dan mendekam di Lapas Wende, New York barat, Amerika Serikat, ia berulang kali mengajukan pembebasan bersyarat. Namun dewan pembebasan bersyarat menolak permohonan Chapman. Sidang pembebasan bersyarat dilakukan pertama kali tahun 2000. Sidang ini diulang setiap dua tahun. Pada setiap sidang ia menyatakan maaf dan  menyesali tindakannya. Namun hingga persidangan ke-10, seperti diwartakan The Guardian dan Daily Mail (15/11/2018), dewan pembebasan bersyarat masih menolak permohonan Chapman.  

Monday, August 3, 2020

Kisah Muram Di Balik "I Don't Like Mondays"

Mungkin banyak yang akrab dengan kalimat “I Don’t Like Mondays” atau malah hafal lagunya. Tapi bisa jadi tak banyak yang tahu cerita di balik lagu ini. I Don’t Like Mondays terinspirasi dari kisah Brenda Spencer, seorang gadis muda yang bersekolah di sebuah SMU di San Diego. Brenda tinggal tak jauh dari sebuah sekolah dasar. Semua tampak normal hingga hari itu, Senin, 29 Januari 1979. Hari itu San Diego dibuat heboh oleh ulah gadis 16 tahun tersebut. Ia menembak mati 2 orang dewasa menggunakan senapan. Sembilan anak-anak terluka. Ia lalu menyembunyikan diri di rumahnya. Butuh 7 jam bagi polisi menunggu gadis ini keluar. Lalu apakah pengakuannya? Ia hanya mengatakan: “I just started shooting, that’s it. I just did it for the fun of it. I just don’t like Mondays. I just did it because it’s a way to cheer the day up. Nobody likes Mondays.”



I Don’t Like Mondays
by Bob Geldof (Boomtown Rat)

The silicon chip inside her head
Gets switched to overload
And nobody’s gonna go to school today
She’s gonna make them stay at home
And daddy doesn’t understand it
He always said she was good as gold
And he can see no reasons
‘Cos there are no reasons
What reason do you need to be show-ow-ow-ow-own?

Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
I wanna shoo-oo-woo-woo-woo-oot the whole day down

The Telex machine is kept so clean
And it types to a waiting world
And mother feels so shocked
Father’s world is rocked
And their thoughts turn to their own little girl
Sweet 16 ain’t that peachy keen
Now that ain’t so neat to admit defeat
They can see no reasons
‘Cuz there are no reasons
What reasons do you need?
Oh Oh oh whoa whoa

Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
I wanna shoo-oo-oo-woo-woo-oot

The whole day down, down, down, shoot it all down
And all the playing’s stopped in the playground now
She wants to play with the toys a while
And school’s out early and soon we’ll be learning
And the lesson today is how to die
And then the bullhorn crackles
And the captain tackles
(With the problems of the how’s and why’s)
And he can see no reasons
‘Cos there are no reasons
What reason do you need to die, die?
Oh Oh Oh

Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like
I don’t like (Tell me why)
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like
I don’t like (Tell me why)
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
I wanna shoo-oo-oo-woo-woo-woot the whole day down

*

I Don’t Like Mondays menjadi single kedua Boomtown Rat yang dirilis pada 1979. Lagu yang ditulis sang vokalis, Bob Geldof ini sempat beberapa pekan menguasai chart di Inggris. Geldof sendiri namanya kemudian lebih dikenal karena kiprahnya di garapan kemanusiaan. Yuk berkenalan dengan Geldof.



Nama lengkapnya Robert Frederick Zenon Geldof KBE. Lahir pada 5 Oktober 1951, ia kemudian dikenal sebagai motor dan vokalis band rock Irlandia, Boomtown Rats yang dibentuk pada akhir 1970-an. Hitsnya yang dikenal di Inggris maupun dunia adalah Rat Trap dan I Don't Like Mondays.

Selain di dunia hiburan, Geldof juga dikenal dengan aktivitas sosial-politiknya. Pada 1984, ia dan Midge Ure mendirikan supergrup Band Aid untuk mengumpulkan uang sebagai upaya memberikan bantuan bagi  bencana kelaparan di Ethiopia. Lagu Do They Know It’s Chistmas yang dibawakan Band Aid pun berjaya. Uang yang terkumpul dari berbagai belahan dunia pun ikut mengalir dan bisa dinikmati  mereka yang terdampak kelaparan.

Geldof juga menjadi adviser bagi One Campaign yang didirikan oleh vokalis U2, Bono. Ia juga menjadi anggota The Africa Progress Panel (APP), sekelompok individu yang melakukan advokasi di tingkat tingkat untuk pembangunan yang adil dan berkelanjutan di Afrika. Sebagai ayah tunggal, Geldof juga vokal untuk gerakan hak-hak ayah.

Geldof mendapatkan gelar kehormatan ksatria (KBE) dari Elizabeth II pada 1986 atas pekerjaan amal di Afrika. Ia juga menerima gelar Man of Peace untuk "kontribusi luar biasa bagi keadilan sosial dan perdamaian internasional". Di bidang musik, di antaranya ia menerima Brit Award untuk Outstanding Contribution to Music.