Monday, August 24, 2020

Mark Chapman dan Peristiwa Kematian John Lennon

Hari ini, 24 Agustus, mundur ke tahun 1981, Mark David Chapman dijatuhi hukuman 20 tahun penjara hingga seumur hidup atas tindakannya melakukan pembunuhan personel The Beatles, John Lennon.


Siapakah Chapman ini? 

Besar di Georgia, ia menjadi fans The Beatles sejak band asal Liverpool, Inggris ini mendunia. Bahkan membuatnya terobsesi bisa bermain musik.  Untuk itu ia belajar gitar. Namun sejak keyakinannya pindah haluan, yakni Kristen fundamentalis, pandangan-pandangannya pun berubah. Ia meyakini The Beatles memberikan pengaruh buruk, utamanya John Lennon, atas pandangannya terhadap agama dan negara. Ketika Lennon meluncurkan Imagine pada 1971, Chapman memparodikannya dengan "Imagine John Lennon dead."

Kehidupan pribadi Chapman suram. Ia pernah berkelana ke kota-kota dunia seperti Tokyo, Bangkok, Singapura, Hong Kong, Seoul, Delhi, London, Jenewa, Paris, Dublin, dan Israel. Ia menikah dengan dengan perempuan Jepang, namun gagal. Pekerjaannya pun tak sukses.

Pada 1980, John Lennon meluncurkan album barunya, Double Fantasy. Akhirnya Lennon ‘kembali’ setelah sekian tahun vakum. Dari publikasinya, Chapman mencatat alamat tinggal Lennon bersama Yoko Ono di New York City. Chapman yang frustasi dengan hidupnya yang gagal, sempat terpikir untuk melakukan bunuh diri. Namun pilihan terakhirnya kemudian adalah mendatangi John Lennon dan menembaknya. 8 Desember 1980. 

Awal Desember tahun itu, cuaca sedang hangat. John dan Yoko punya janji ke studio rekaman jam 5 sore. Chapman mencegat John dan Yoko Ono saat mereka beranjak meninggalkan apartemen, untuk minta tanda tangan di sampul album rekaman Double Fantasy. Pertemuan ini sempat terekam kamera fotografer. Setelah itu ia membiarkan John dan Yoko pergi. Tapi ia menunggu mereka kembali pulang. Usai agenda di studio rekaman, John dan Yoko pulang dengan berjalan kaki. Mereka pulang lebih cepat, berharap menemani anak mereka, Sean, makan malam di rumah. Saat Lennon akan memasuki gedung apartemen, Chapman mencabut pistol, memanggil Lennon, lalu menghujaninya dengan beberapa tembakan. Dua tembakan mengenai bagian kiri punggung, dua peluru lain menembus bahu kirinya. 


Pasca penembakan, John berusaha berjalan memasuki gedung. Ia masih bisa berseru kepada resepsionis kalau ia ditembak. Petugas apartemen, Jay Hastings, memberikan bantuan dengan  membalut luka John dan menggunakan jaketnya untuk menutupi tubuh John.  Segera, John dibawa ambulan ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, John menghembuskan nafas terakhir. Terlalu banyak darah yang keluar.

Kabar kematian John   diberitakan pertama kali oleh ABC. Seorang produser stasiun televisi tersebut sedang dirawat di rumah sakit John menuju. Peristiwa kematian ini kemudian menjadi  ‘breaking news’ di tengah tayangan langsung pertandingan sepak bola pada malam tersebut.


Jasad John dikremasi dua hari setelah kematiannya, di taman pemakaman Ferncliff, Hartsdale, New York. Abu jenazah disimpan oleh Yoko. Yoko sendiri tak menggelar acara pemakaman. Ia mengundang para fans yang berkumpul di sekitar apartemen untuk hadir di Central Park pada hari Minggu. Pada waktu yang ditentukan, lebih dari 200 orang mendatangi Central Park. Mereka mengheningkan cipta dan menyanyikan lagu-lagu John. Radio siaran juga ikut berpartisipasi untuk mengenang John Lennon. Selama 10 menit mereka menghentikan siaran. 

Lalu apa kabar Chapman?


Sejak divonis penjara pada 1981 dan mendekam di Lapas Wende, New York barat, Amerika Serikat, ia berulang kali mengajukan pembebasan bersyarat. Namun dewan pembebasan bersyarat menolak permohonan Chapman. Sidang pembebasan bersyarat dilakukan pertama kali tahun 2000. Sidang ini diulang setiap dua tahun. Pada setiap sidang ia menyatakan maaf dan  menyesali tindakannya. Namun hingga persidangan ke-10, seperti diwartakan The Guardian dan Daily Mail (15/11/2018), dewan pembebasan bersyarat masih menolak permohonan Chapman.  

Monday, August 3, 2020

Kisah Muram Di Balik "I Don't Like Mondays"

Mungkin banyak yang akrab dengan kalimat “I Don’t Like Mondays” atau malah hafal lagunya. Tapi bisa jadi tak banyak yang tahu cerita di balik lagu ini. I Don’t Like Mondays terinspirasi dari kisah Brenda Spencer, seorang gadis muda yang bersekolah di sebuah SMU di San Diego. Brenda tinggal tak jauh dari sebuah sekolah dasar. Semua tampak normal hingga hari itu, Senin, 29 Januari 1979. Hari itu San Diego dibuat heboh oleh ulah gadis 16 tahun tersebut. Ia menembak mati 2 orang dewasa menggunakan senapan. Sembilan anak-anak terluka. Ia lalu menyembunyikan diri di rumahnya. Butuh 7 jam bagi polisi menunggu gadis ini keluar. Lalu apakah pengakuannya? Ia hanya mengatakan: “I just started shooting, that’s it. I just did it for the fun of it. I just don’t like Mondays. I just did it because it’s a way to cheer the day up. Nobody likes Mondays.”



I Don’t Like Mondays
by Bob Geldof (Boomtown Rat)

The silicon chip inside her head
Gets switched to overload
And nobody’s gonna go to school today
She’s gonna make them stay at home
And daddy doesn’t understand it
He always said she was good as gold
And he can see no reasons
‘Cos there are no reasons
What reason do you need to be show-ow-ow-ow-own?

Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
I wanna shoo-oo-woo-woo-woo-oot the whole day down

The Telex machine is kept so clean
And it types to a waiting world
And mother feels so shocked
Father’s world is rocked
And their thoughts turn to their own little girl
Sweet 16 ain’t that peachy keen
Now that ain’t so neat to admit defeat
They can see no reasons
‘Cuz there are no reasons
What reasons do you need?
Oh Oh oh whoa whoa

Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
I wanna shoo-oo-oo-woo-woo-oot

The whole day down, down, down, shoot it all down
And all the playing’s stopped in the playground now
She wants to play with the toys a while
And school’s out early and soon we’ll be learning
And the lesson today is how to die
And then the bullhorn crackles
And the captain tackles
(With the problems of the how’s and why’s)
And he can see no reasons
‘Cos there are no reasons
What reason do you need to die, die?
Oh Oh Oh

Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like
I don’t like (Tell me why)
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like
I don’t like (Tell me why)
I don’t like Mondays
Tell me why
I don’t like Mondays
I wanna shoo-oo-oo-woo-woo-woot the whole day down

*

I Don’t Like Mondays menjadi single kedua Boomtown Rat yang dirilis pada 1979. Lagu yang ditulis sang vokalis, Bob Geldof ini sempat beberapa pekan menguasai chart di Inggris. Geldof sendiri namanya kemudian lebih dikenal karena kiprahnya di garapan kemanusiaan. Yuk berkenalan dengan Geldof.



Nama lengkapnya Robert Frederick Zenon Geldof KBE. Lahir pada 5 Oktober 1951, ia kemudian dikenal sebagai motor dan vokalis band rock Irlandia, Boomtown Rats yang dibentuk pada akhir 1970-an. Hitsnya yang dikenal di Inggris maupun dunia adalah Rat Trap dan I Don't Like Mondays.

Selain di dunia hiburan, Geldof juga dikenal dengan aktivitas sosial-politiknya. Pada 1984, ia dan Midge Ure mendirikan supergrup Band Aid untuk mengumpulkan uang sebagai upaya memberikan bantuan bagi  bencana kelaparan di Ethiopia. Lagu Do They Know It’s Chistmas yang dibawakan Band Aid pun berjaya. Uang yang terkumpul dari berbagai belahan dunia pun ikut mengalir dan bisa dinikmati  mereka yang terdampak kelaparan.

Geldof juga menjadi adviser bagi One Campaign yang didirikan oleh vokalis U2, Bono. Ia juga menjadi anggota The Africa Progress Panel (APP), sekelompok individu yang melakukan advokasi di tingkat tingkat untuk pembangunan yang adil dan berkelanjutan di Afrika. Sebagai ayah tunggal, Geldof juga vokal untuk gerakan hak-hak ayah.

Geldof mendapatkan gelar kehormatan ksatria (KBE) dari Elizabeth II pada 1986 atas pekerjaan amal di Afrika. Ia juga menerima gelar Man of Peace untuk "kontribusi luar biasa bagi keadilan sosial dan perdamaian internasional". Di bidang musik, di antaranya ia menerima Brit Award untuk Outstanding Contribution to Music.